Arak-arakan tumpeng dikawal ketat oleh sejumlah orang yang berpakaian serba hitam khas adat Jawa. Mirip seperti iring-iringan keraton, pengawal perempuan mengenakan kebaya lengkap sedangkan pengawal pria menggunakan blangkon beserta sarung jarik.
Arak-arakan tumpeng itu diarak keliling menuju Balai Desa Munggugianti. Di sana, arakan tumpeng itu kemudian diletakan di tengah-tengah kantor desa. Tentu saja, setelah didoakan oleh sesepuh desa, sayur dan buah di tumpeng raksasa itu akan direbutkan oleh warga. Mereka berebut ngalap barokah dari tradisi itu.
Kepala BPD Munggugianti Siswanto mengatakan gelaran sedekah bumi diadakan setiap tahunnya. Tujuannya, mewujudkan rasa syukur atas kelimpahan rezeki atas hasil bumi yang diterima.
"Harapannya tahun depan rezekinya bertambah lagi, karena ini bentuk wujud rada syukur kepada Allah," ujarnya.
Siswanto menjelaskan tradisi sedekah bumi ini, selain mengarak tumpeng raksasa, setiap warga yang datang ke balai desa juga membawa sejumlah makanan. Mulai dari nasi, buah-buahan dan sedikit uang yang nantinya akan dibagikan kepada anak-anak.
"Setelah didoakan makanan yang dibawa dari rumah dimakan sedikit lalu dibawa pulang dan yang membedakan dari tahun sebelumnya, gelaran sedekah bumi tahun ini dirayakan secara meriah. Selain arakan tumpeng raksasa ada gelaran wayang yang tampil khusus di acara ini sehari semalam, " pungkasnya.(yud/rof) Editor : Hany Akasah