Agar pembelajaran daring maksimal, pihak desa menyediakan internet dengan kecapatan ekstra serta terus mengawasi pelajar agar tetap menerapkan protokol kesehatan ketat dengan jaga jarak.
Salah satu pelajar Ulidatul Falkiyah mengaku sangat terbantu dengan adanya program internet gratis. Sebelum program itu, Uli harus mengeluarkan Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu untuk membeli kuota internet. Dalam pembelajaran daring ini kata Ulidatul, pelajar harus menyimak seluruh materi dari handphone yang tersambung internet. Kemudian, guru memberikan tugas yang juga dikirimkan seketika itu juga.
"Jadi sangat terbantu adanya internet berupa wifi ini secara gratis. Terima kasih kepada kepala desa yang memberikan dan meyediakan fasilitas ini," katanya, Rabu (5/8).
Sementara itu Kepala Desa Pangkahkulon Ahmad Fauron mengatakan sebenarnya fasilitas internet di balai desa sudah tersedia sejak dua tahun lalu. Masyarakat sekitar sudah sering memanfaatkan untuk mengakses informasi di internet. Namun, sejak pandemi Covid-19, pihaknya memprioritaskan internet gratis untuk pelajar yang membutuhkan dalam menunjang belajar daring.
"Jadi ini sudah dua tahun lalu ada berupa wifi. Untuk menunjang agar internet cepat kami beri tambahkan jaringan kecepatan hingga 30/Mbps. Agar pelajar juga senang," imbuhnya.
Fauron menambahkan, intruksi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa beberapa waktu yang lalu agar desa memfasilitasi internet untuk belajar daring ini sudah dilaksanakan olehnya. Alumnus IAIN Surabaya itu berencana memperluas jaringan signal WiFi dengan mengoptimalkan belajar daring dibeberapa titik. "Jadi jika kurang, ke depan akan kami tambah lagi," pungkasnya.(yud/han) Editor : Hany Akasah