RADAR GRESIK - Raungan sirene ambulans memecah suasana pagi itu (10/7/2026) di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Umar Mas’ud Bawean. Petugas bergegas menurunkan pasien dari ambulans ke atas brankar (tandu beroda) sebelum membawanya ke ruang pemeriksaan. Di ruang IGD, tim medis segera memberikan penanganan sesuai hasil diagnosis.
Bergeser ke ruang rawat inap anak, Nunung warga Sungai Ruji Sangkapura, setia mendampingi putranya di ruang yang dindingnya berhias aneka stiker binatang kartun lucu. Sesekali ia tersenyum saat perawat memeriksa kondisi anaknya.
“Sejak anak saya masuk, perawat dan dokternya ramah dan cepat membantu setiap kali kami membutuhkan. Fasilitasnya juga baik” tuturnya. Bagi Nunung dan warga Bawean, keberadaan RSUD Umar Mas’ud memberikan rasa tenang. Menurutnya, masyarakat kini tidak selalu harus menyeberang ke Gresik untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
RSUD Umar Mas’ud merupakan satu-satunya rumah sakit rujukan di Pulau Bawean. Namanya diambil dari Syech Maulana Umar Mas’ud atau Pangeran Perigi, ulama penyebar Islam yang memimpin Bawean pada awal abad ke-17.
Pulau Bawean sendiri berjarak sekitar 135 kilometer dari Kota Gresik dan dihuni sekitar 85 ribu jiwa yang tersebar di Kecamatan Sangkapura dan Tambak. Untuk mencapainya diperlukan perjalanan laut selama tiga hingga empat jam dengan kapal cepat, delapan hingga sembilan jam menggunakan feri, atau sekitar satu jam melalui penerbangan perintis dari Juanda menuju Bandara Harun Thohir.
Baca Juga: Dinas KBPPPA Gresik Gencarkan Pendampingan Standardisasi Sekolah Ramah Anak di Pulau Bawean
Kondisi geografis tersebut membuat keberadaan RSUD Umar Mas’ud menjadi sangat vital sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat kepulauan. Rumah sakit yang berdiri pada 2017 sebagai rumah sakit tipe D ini menjadi rujukan utama bagi puskesmas dan fasilitas kesehatan lain di Bawean.
"Pada awal operasional, layanan dokter spesialis masih terbatas. Kini RSUD Umar Mas’ud telah memiliki lima dokter spesialis di bidang penyakit dalam, bedah, anak, obstetri dan ginekologi, serta anestesi," terang dr. Faizah Komala, Kepala Seksi Pelayanan Medis RSUD Umar mas'ud.
Pelayanan juga didukung lima dokter umum, satu dokter gigi, empat dokter IGD, beserta tenaga kesehatan dan tenaga pendukung lainnya. "Di antara seluruh layanan yang tersedia, Poli Penyakit Dalam menjadi layanan yang paling banyak diakses warga," ungkapnya.
Meski demikian, pemenuhan dokter spesialis tetap di wilayah kepulauan masih menjadi tantangan karena tenaga spesialis direkrut melalui sistem kontrak. Untuk itu, Dinas Kesehatan Pemkab Gresik atas arahan Bupati Fandi Akhmad Yani dan Wakil Bupati dr. Asluchul Alif sedang menjalankan program beasiswa ikatan dinas bagi tujuh dokter untuk menempuh pendidikan dokter spesialis sebagai solusi jangka panjang.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, dr. Mukhibatul Khusnah, mengatakan pemerataan pelayanan kesehatan merupakan komitmen Pemkab Gresik agar masyarakat Bawean memperoleh layanan yang setara dengan masyarakat di daratan.
Baca Juga: Wisata Mangrove Hijau Daun Bawean: Pesona Konservasi 70 Hektar yang Memikat Ribuan Wisatawan
"Khususnya untuk RSUD Umar Mas'ud di Bawean, Pemkab Gresik menjalankan program beasiswa dokter spesialis. Alhamdulillah ini sudah masuk di tahun keempat, sehingga dalam satu-dua tahun ke depan, dokter yang disekolahkan oleh Pemkab Gresik akan mengabdi di Pulau Bawean. Ini akan memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat di sana," ujar dr, Mukhibatul Khusnah.
Keberadaan dokter spesialis di Bawean ini penting untuk mengurangi jumlah rujukan dari Bawean ke layanan kesehatan di Gresik daratan. Meskipun, Pemkab Gresik sendiri telah menyediakan bantuan pembiayaan tenaga kesehatan pendamping untuk pasien rujukan. "Kalau dulu layanan rujukan untuk nakes pendamping seperti transportasi dan akomodasinya, itu dibebankan kepada pasien. Tapi mulai tahun 2026 ini kebijakan Bupati-Wakil Bupati memberi bantuan pembiayaan nakes pendamping dari APBD," lanjutnya.
Tercatat untuk tahun 2026 hingga awal Juni ini, sebanyak 138 rujukan telah dilaksanakan. Jumlah pasien rawat jalan sebanyak 7500-an dan layanan rawat inap sebanyak 1.200-an pasien. Sedangkan Tingkat Keterisian Tempat Tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) rata-rata 32,08 persen, menunjukkan secara kapasitas rumah sakit ini siap jika terjadi lonjakan kedaruratan.
Untuk meningkatkan wawasan kesehatan warga, RSUD Umar Mas'ud juga menjalankan program inovasi RISOL MAYO (Ruang Interaktif dan Konsultasi Gizi Menuju Pelayanan Optimal). Layanan ini menyediakan edukasi serta konsultasi gizi mengenai pola makan sehat, gizi ibu dan anak, pencegahan stunting, hingga pencegahan penyakit melalui pengaturan pola hidup sehat.
Bagi masyarakat Bawean, RSUD Umar Mas’ud bukan sekadar rumah sakit. Di pulau yang dipisahkan laut dari daratan Gresik, rumah sakit ini menjadi simbol hadirnya pelayanan publik yang memastikan setiap warga tetap memperoleh hak atas layanan kesehatan yang berkualitas. (han)
Editor : Hany Akasah