RADAR GRESIK – PT PLN (Persero) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (UIT JBM) menyalurkan bantuan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) untuk program "Elsinduk Gemes" (Elektrifikasi Bank Sampah Induk Gemes Sekardadu) di Kelurahan Ngargosari, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jumat (17/7).
Bantuan stimulan yang diserahkan berupa alat mesin komposter listrik berkapasitas 200 kilogram beserta rangkaian pelatihan pengelolaan sampah produktif bagi ibu-ibu perwakilan RT/RW dan pengurus Bank Sampah Gemes.
Senior Manager Keuangan, Komunikasi, dan Umum PLN UIT JBM, Andri Octavian, menyatakan bahwa PLN berkomitmen penuh untuk ikut serta memberdayakan masyarakat dalam melestarikan lingkungan bumi, sekaligus mengubah sampah menjadi pilar ekonomi baru warga.
"Kami sangat terharu dan mengapresiasi peran ibu-ibu yang mampu mengubah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Melalui inisiatif TJSL ini, kami menghadirkan mesin komposter listrik yang terbukti lebih hemat dan ramah lingkungan agar produktivitas serta hasil pengolahan sampah organik di sini bisa jauh lebih optimal," ujar Andri.
Andri menambahkan bahwa sebagai perusahaan yang mengelola jaringan gardu induk, PLN UIT JBM memandang pengelolaan sampah kini bukan lagi hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Ketertarikan PLN mendukung Bank Sampah Gemes didasari atas reputasi dan konsistensi pergerakan mereka yang dinilai sangat baik dalam pengelolaan lingkungan di Gresik.
Apresiasi senada disampaikan oleh perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gresik, Roziq. Pihaknya menyambut baik kepedulian korporasi dalam memicu pertumbuhan bank sampah baru.
"Makin banyak bank sampah yang aktif bergerak di masyarakat, maka volume sampah yang masuk dan membebani TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) bisa dikurangi secara signifikan," jelas Roziq.
Sementara itu, Lurah Ngargosari, Sutrisno, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian dan intervensi teknologi yang dibawa oleh PLN. Menurutnya, Kelurahan Ngargosari memiliki potensi lahan kosong yang cukup luas mencapai 60 hektare dan belum bisa dimaksimalkan, namun manajemen sampahnya harus tetap dikelola secara modern dan masif sejak dari hulu rumah tangga.
"Meskipun ada keterbatasan sarana pada awalnya, dengan adanya kegiatan dan pelatihan dari PLN ini diharapkan ibu-ibu bisa langsung memilah dan mengolah sampah organik secara mandiri dari dalam rumah masing-masing," tutur Sutrisno.
Pengurus Bank Sampah Gemes, Fitriyah memaparkan, bantuan mesin komposter listrik dari PLN ini sangat menjawab kebutuhan mendasar di lapangan, mengingat volume sampah organik mendominasi dan kerap sulit terurai jika tercampur sampah anorganik.
Menurutnya keunggulan mesin komposter listrik ini mampu memangkas waktu pemrosesan pupuk menjadi hanya satu minggu, jauh lebih cepat dibanding alat manual biasa yang membutuhkan waktu hingga satu bulan.
"Selain menghasilkan pupuk, mesin berbasis listrik ini juga multifungsi untuk memproduksi pelet pakan yang bernilai ekonomi tinggi untuk dipasarkan. Saat ini, Bank Sampah Gemes mengelola 25 unit pengumpulan di tingkat RT dan RW dengan sistem pengangkutan terjadwal seminggu sekali," terang Fitriyah.
Dalam kurun waktu dua bulan terakhir, volume sampah organik yang berhasil dihimpun oleh Bank Sampah Gemes telah menembus lebih dari satu ton. Kehadiran teknologi PLN ini diyakini mampu mendongkrak jumlah nasabah serta meningkatkan kapasitas serapan sampah organik maupun anorganik di wilayah setempat agar TPA Gresik tidak mengalami overload. (rir/han)
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Gresik