RADAR GRESIK – Di balik dinding Museum Sunan Giri, tersimpan kekayaan sejarah yang bukan sekadar benda arkeologis biasa. Koleksi 16 umpak kuno yang berasal dari kompleks makam Sunan Giri kini menjadi jendela bagi masyarakat untuk mengintip kecerdasan lokal dan filosofi mendalam masyarakat Nusantara masa lampau.
Bukan sekadar alas tiang, benda-benda ini merupakan bukti nyata bagaimana teknologi konstruksi tradisional telah mampu menjawab tantangan alam dengan sangat elegan.
Budayawan Eko Jarwanto melalui kajian bertajuk Umpak sebagai Tinggalan Sejarah: Kajian Arkeologis dan Makna Kultural, membedah fungsi dan relevansi benda tersebut hingga ke arsitektur modern.
Ia menjelaskan bahwa secara etimologi, istilah umpak berasal dari bahasa Jawa yang berarti alas, landasan, atau pondasi. Dalam arsitektur tradisional, umpak menjadi tumpuan vital bagi tiang penyangga bangunan atau saka.
"Umpak merupakan salah satu bentuk teknologi konstruksi tradisional yang menunjukkan kecerdasan lokal masyarakat Nusantara dalam membangun struktur yang kokoh,” kata Eko Jarwanto.
Koleksi di Museum Sunan Giri ini memiliki keunikan tersendiri karena berbahan kayu dan berasal dari bangunan pendapa makam sang sunan. Dengan ukuran berkisar 20 hingga 60 sentimeter, umpak-umpak ini menyimpan makna yang melampaui sekadar fungsi fisik.
"Secara filosofis, umpak melambangkan pondasi kehidupan yang kokoh, hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Dalam kosmologi Jawa, umpak dipandang sebagai titik pertemuan dunia bawah (bumi) dan dunia atas (langit), sehingga memiliki nilai simbolik yang kuat terkait kesucian dan keseimbangan hidup,” ujarnya.
Dilihat dari bentuknya, koleksi ini terbagi menjadi dua model utama. Model pertama berbentuk persegi dengan motif surya atau flora bersudut delapan yang memiliki struktur tiga tingkat. Sementara model kedua lebih menyerupai bintang segi delapan atau bunga padma (lotus) dengan motif geometris.
Eko menambahkan bahwa koleksi ini didominasi oleh fungsi religius, yang tercermin jelas dari relief yang dipahat pada permukaannya.
"Koleksi Museum Sunan Giri didominasi umpak dengan fungsi religius. Ditinjau dari unsur motif relief, bentuk padma/lotus yang melambangkan kesucian, juga bintang segi delapan arah mata angin. Motif flora (daun stylir surya/cahaya) melambangkan keselarasan dengan alam dan Sang Pencipta,” imbuhnya.
Dari kacamata teknik, sistem umpak ini sangat adaptif terhadap lingkungan tropis yang memiliki kelembapan tinggi dan risiko pergerakan tanah. Menariknya, prinsip kerja umpak yang mengandalkan gravitasi ini ternyata sejalan dengan konsep isolasi struktural pada bangunan modern.
Penelitian sejarah juga mengungkap bahwa perbedaan model pada umpak-umpak tersebut menandakan adanya dua fase waktu pembuatan yang berbeda dalam sejarah Gresik.
"Hal ini sejalan dengan catatan sejarah dalam naskah Babad Gresik yang menyebut adanya dua fase penting perbaikan bangunan di kompleks makam Sunan Giri, yakni pada abad ke-17 atas prakarsa Sunan Prapen dan pada abad ke-19 oleh Bupati Gresik Raden Adipati Suryowinoto,” pungkasnya. (jar/han)
Editor : Hany Akasah