Berbeda dengan hidangan kolak pada umumnya yang disajikan hangat ketika berbuka puasa, warga Desa Gumeno membuat kolak dari ayam yang disajikan ketika memasuki malam 23 Ramadan.
Dengan menggunakan daging ayam sebagai bahan utama pembuatan kolak ayam, mereka menyebutnya sebagai tradisi sanggring yang kini lebih dikenal dengan sebutan tradisi berbuka puasa kolak ayam.
Ketua Panitia Tradisi Kolak Ayam atau Sanggring, Ahmad Su'udi menuturkan sejarah kolak ayam bermula saat Sunan Dalem, putra kedua Sunan Giri membangun Masjid Jami untuk menyebarkan Agama Islam mengalami sakit yang tidak diketahui jenis penyakitnya. "Hingga suatu hari, di malam 23 Ramadan, Sunan Dalem salat Istikharah dan mendapat petunjuk dari Allah SWT," ujarnya.
Sunan Dalem meminta para santri menyiapkan ayam jago kampung ke masjid untuk dipotong dan dimasak menjadi kolak ayam. Ajaibnya setelah menyantap hidangan kolak.ayam tersebut ternyata Sunan Dalem berangsur sembuh dari penyakitnya.
Baca Juga : Makam Maulana Malik Ibrahim, Batu Nisan Model Kapal Khas Gujarat (1)
" Sejak itulah, sebagai ungkapan syukur atas sembuhnya pimpinan umat dan permintaan Sunan Dalem penduduk Desa Gumeno membuat kolam ayam dan menikmatinya bersama-sama sanak saudara di rumah dan tamu tamu dari daerah lain, jelasnya.
Suudi juga menuturkan adapun nama Sanggring berasal dari dua kata, Sang dan Gring. Sang yang artinya raja atau penggedhe dan Gring yang berarti gering atau sakit. Jadi, Sanggring mempunyai arti kurang lebih, raja yang sedang sakit.
"Untuk (pelaksanaan) tahun ini, ada sekitar 3000 porsi (kolak ayam) yang kami sediakan untuk takjil berbuka puasa. Untuk itu, kami menyembelih sebanyak 209 ekor ayam kampung jantan yang masih muda," tuturnya.
Selain rasanya yang manis dan gurih yang kental dengan aroma rempah rempah, sajian kolak ayam ini diyakini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Prosesi tradisi sudah mulai sejak pagi selepas Salat Subuh di halaman Masjid Jami Sunan Dalem. Mereka yang memasak hanya kaum laki laki. Proses pembuatan kolak ayam diawali dengan pemotongan daging ayam yang sudah masak dan di iris tipis tipis kemudian merajang bawang daun.
Sedangkan kelompok pemuda lainnya memeras santan kelapa. Setelah itu daging dan santan jadi dituangkan kedalam wajan besar yang dicampuri dengan cairan gula aren, jinten serta bawang daun kemudian diaduk terus hingga menjadi kolak.
Setelah itu para juru masak yang terdiri dari kaum adam ini mengangkat hasil masakan tersebut untuk dikumpulkan di satu tempat. Juru masak kolak ayam ini tidak sembarang orang, mereka merupakan juru masak turun temurun sejak zaman Sunan Dalem.
Baca Juga : Diminta Mencari Tanah Seperti di Pasai Hingga Dirikan Pesantren
Tradisi sanggring di Desa Gumeno bahkan telah diakui sebagai warisan budaya tak benda, yang kini sudah menginjak 498 tahun dan masih dilestarikan hingga saat ini. Pertama kali, tradisi ini diperingati 22 Ramadan 946 Hijriyah yang bertepatan dengan 31 Januari 1540 Masehi.
Sementara itu Wakil Bupati Gresik, Aminatun Habibah menyampaikan untuk melestarikan tradisi hingga sekarang, warga Desa Gumeno selalu melibatkan generasi muda dalam setiap kegiatan.
"Ini sebuah tradisi yang baik, mengingatkan perjuangan Sunan Dalem dalam mensyiarkan agama Islam. Ini kita teruskan, mudah-mudahan membangkitkan motivasi kita agar tidak menyerah dalam kondisi apapun," ucapnya. (Yud/han) Editor : Hany Akasah