Dalam sejumlah catatan sejarah, disebutkan kedatangan Syekh Maulana Malik Ibrahim ke tanah Jawa, disertai oleh sejumlah pengikutnya dan menempati Desa Sembalo yang kini dikenal dengan wilayah Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik.
Ketua Yayasan Makam Maulana Malik Ibrahim Taufiq Harris mengatakan, Syekh Maulana Malik Ibrahim juga mendirikan masjid pertama di Desa Pasucian, Kecamatan Manyar. “Sering kali disebut-sebut memiliki karamah dalam menurunkan hujan saat musim kemarau yang berkepanjangan,” jelasnya.
Dipaparkannya, kisah karamah Syekh Maulana Malik Ibrahim tersebut, diawali saat dia mengembara dan bertemu dengan sekelompok orang yang tengah mengadakan upacara pengorbanan seorang gadis di atas bukit untuk meminta hujan.
Baca Juga : Makam Maulana Malik Ibrahim, Batu Nisan Model Kapal Khas Gujarat (1)
Dalam upacara itu, sang dukun telah siap menghujamkan sebilah pisau ke dada gadis cantik yang dijadikan persembahan bagi Dewa Hujan. Wanita itu adalah gadis ketiga yang dipersembahkan ke Dewa Hujan, setelah dua korban sebelumnya dipersembahkan namun tidak juga membuat hujan turun dari langit. Melihat hal itu, dari kejauhan Syekh Maulana Malik Ibrahim berteriak lantang mencegah praktik persembahan manusia itu. Tetapi ujung pisau telah sampai ke dada si gadis malang. Namun keajaiban terjadi, pisau itu tak mampu menembus dadanya.
Dukun itu merasa ada kekuatan gaib yang menghadang tenaganya menekan pisau ke dada gadis cantik itu. Sampai kemudian dukun itu terlempar jauh. Kemudian Syekh Maulana Malik Ibrahim mendekat. Dengan rasa marah, dukun itu menanyakan kenapa Syekh Maulana Malik Ibrahim menghalangi pelaksanaan upacara persembahan manusia itu.
"Sudah berapa gadis yang dikorbankan,?" tanya Syekh Maulana Malik . "Dua," jawab dukun itu. "Apakah setelah dua nyawa itu melayang, hujan turun?" tanya Syekh Maulana Malik Ibrahim lagi. Dukun itu terdiam. Memang setelah dua persembahan lalu, Dewa Hujan belum juga bermurah hati menurunkan airnya. Tetapi dia meyakini setelah yang ketiga ini, Dewa Hujan akan mengabulkan permohonannya, yang juga merupakan permohonan semua penduduk di daerah itu.
Sesaat setelah menyadari kondisi yang dialami penduduk, Syekh Maulana Malik Ibrahim berujar, "Bila hujan dapat turun, masihkah kalian akan mengorbankan gadis ini,?".
"Yang kami inginkan adalah hujan, tuan. Jika hujan turun, kami akan bebaskan gadis itu," ujar seorang penduduk. Syekh Maulana Malik Ibrahim lalu menjalankan salat Istisqa untuk minta hujan.
Baca Juga : Diminta Mencari Tanah Seperti di Pasai Hingga Dirikan Pesantren
Karena karamahnya membuat hujan turun dengan deras, mengakhiri kekeringan di daerah tersebut. Orang-orang yang menyaksikan itu menjadi takjub dan tak kepalang gembiranya. Mereka serentak bersujud seperti menyadari bahwa Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah seorang dewa. Tetapi Syekh Maulana Malik segera mencegah dan menyuruh mereka bangkit. Dengan lembut dia menjelaskan semua adalah berkat keagungan Allah SWT, Tuhan yang sebenarnya.
“Dengan takjub dan mendapat pencerahan dari sebuah tanda kebesaran Allah yang baru lewat tadi, orang-orang itu menyatakan ketertarikannya pada Islam. Mereka ingin memeluk Islam dan belajar mengenai ajarannya. Lalu orang-orang tersebut diajarkannya mengucap dua kalimat sahadat dan masuk agama Islam,” papar Taufiq. (nov/han) Editor : Hany Akasah