World Health Organization (WHO) memperkirakan pada tahun 2017, terdapat 10 juta orang di seluruh dunia yang terinfeksi oleh kuman Mycobacterium tuberculosis, dan menyebabkan kematian sekitar 1,3 juta jiwa. Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang menjadi penyebab utama menurunnya pelayanan kesehatan, serta peningkatan mortalitas.
Pandemi COVID-19 mendorong terjadinya perubahan manajemen kesehatan, di sisi lain TB merupakan komorbiditas yang dapat meningkatkan mortalitas pasien. Tuberkulosis disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang menyebar lewat udara (misalnya saat penderita TB mengalami batuk). Penyakit ini dapat mempengaruhi paru-paru, namun dapat juga bermanifestasi pada organ lain.
Hasil penelitian diperoleh angka kejadian tuberkulosis di Provinsi Jawa Timur tahun 2020 sebesar 95,49/100.000 penduduk dengan angka kesembuhan kasus yang bervariasi. Kasus TB didominasi oleh masyarakat berjenis kelamin laki – laki. Jumlah perempuan di Jawa Timur tahun 2020 mencapai 20.374.104, sedangkan laki-laki mencapai 20.291.592.
Penduduk dengan tuberkulosis yang didominasi oleh perempuan hanya ditemukan di kabupaten Probolinggo dengan jumlah perempuan (604) lebih tinggi dibandingkan laki-laki (561). Selanjutnya, tingkat infeksi tertinggi ditemukan di Madiun (296,51/100.000 penduduk), sedangkan yang terendah di Malang (0,07/100.000 penduduk).
Rasio insiden kasus tuberkulosis berdasarkan jenis kelamin diperoleh laki-laki (117,66/100.000 jiwa) lebih tinggi daripada perempuan (93.49/100.000 jiwa).
Kabupaten dengan angka kejadian tuberkulosis pada laki-laki tertinggi adalah Madiun (342,62/100.000 penduduk) dan yang terendah terdapat di Pacitan (57,88/100.000 penduduk). Selanjutnya, pada jenis kelamin perempuan angka kejadian tuberkulosis tertinggi di Pasuruan (223,16/100.000 jiwa) dan terendah di Pacitan (93,49/100.000 jiwa).
Berdasarkan temuan, angka kejadian infeksi COVID-19 tertinggi ditemukan di Mojokerto (789,9/100.000 penduduk), sedangkan terendah ditemukan di Sampang (52,5/100.000 penduduk). Analisis berdasarkan jenis kelamin diperoleh tingkat kejadian COVID-19 pada perempuan (210,74/100.000 penduduk) lebih tinggi daripada laki-laki (198,04/100.000 penduduk). Sedangkan Kabupaten dengan jumlah penduduk laki-laki tertinggi di Mojokerto (744,46/100.000 jiwa), sedangkan terendah di Sampang (48,58/100.000 jiwa).
Kabupaten dengan angka kejadian COVID-19 pada perempuan tertinggi adalah Mojokerto (804,51/100.000 jiwa), sedangkan yang terendah terdapat di Madiun (51.14/100.000 jiwa). Angka kematian kasus tuberkulosis secara keseluruhan di Provinsi Jawa Timur di Indonesia adalah 3,6%. CFR infeksi TB tertinggi ditemukan di Probolinggo (7%), sedangkan terendah ditemukan di Surabaya (0,4%).
Sementara itu, CFR infeksi COVID-19 tertinggi diperoleh di Pasuruan (11%), sedangkan terendah ditemukan di Tulungagung 2,1%. Selanjutnya, angka kesembuhan kasus tuberkulosis tertinggi terdapat di Magetan (96,6%), sedangkan terendah di Kota Batu (11,3%). Sementara itu, Case Recovery Rate COVID-19 didefinisikan sebagai pasien COVID-19 dengan hasil positif pada awal RT-PCR, dan hasil negatif pada akhir pemeriksaan.
Angka kesembuhan kasus COVID-19 tertinggi terdapat di Sidoarjo (92,6%), sedangkan terendah ditemukan di Tuban (64,5%). Tingkat keberhasilan pengobatan tuberkulosis tertinggi terdapat di Magetan (95,97%), sedangkan terendah ditemukan di Bondowoso (65,89%).
Perhitungan jumlah kasus COVID-19 berdasarkan kelompok umur diperoleh usia tertinggi di kisaran 46-59 tahun (23.947 individu), sedangkan terendah ditemukan pada usia 3-6 tahun (771 individu).Temuan tersebut mengisyaratkan pemerintah dan sektor terkait untuk meningkatkan angka keberhasilan pengobatan tuberkulosis guna mencapai penurunan insiden, mortalitas dan penularan di masyarakat. Selain itu, diperlukan upaya terintegrasi dalam meningkatkan deteksi kasus tuberkulosis sejak dini untuk menekan penularan dan merealisasikan eliminasi TB tahun 2030. (*) Editor : Hany Akasah