RADAR GRESIK – Pembangunan pabrik melamin senilai sekitar US$600 juta di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) Gresik diproyeksikan akan memperkuat struktur industri kimia nasional.
Proyek ini sekaligus menjadi motor penggerak pengembangan industri rendah emisi di Indonesia.
Proyek yang dikembangkan oleh Golden Elephant (GEABH) ini merupakan salah satu fasilitas melamin terbesar di dunia. Fasilitas ini dirancang secara terintegrasi dari hulu hingga hilir, mencakup proses pengolahan gas alam menjadi amonia, urea, hingga produk akhir berupa melamin.
Baca Juga: Bupati Yani Siapkan Penertiban Besar di Gresik Selatan, Puluhan Lapak Pasar Menganti Bakal Digusur
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa pembangunan fasilitas ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik serta memperkuat daya saing industri.
“Pengembangan industri melamin di Gresik merupakan langkah strategis dalam memperkuat hilirisasi nasional. Kami mengapresiasi peran KEK Gresik dalam menyediakan ekosistem industri terintegrasi yang mampu menarik investasi berskala besar dan berkualitas tinggi,” ujar Airlangga, Rabu (8/4).
Pengembangan proyek ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat basis industri berbasis sumber daya alam, sekaligus mendukung transisi menuju industri yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Chairman Golden Elephant (GESC), Lei Lin, menjelaskan bahwa proyek ini mengusung pendekatan ekonomi sirkular dengan dukungan teknologi proses generasi terbaru. Hal ini memungkinkan efisiensi energi hingga 30% lebih rendah dibandingkan standar industri global.
“Kami melihat JIIPE sebagai kawasan strategis untuk menghadirkan rantai industri kimia terintegrasi berbasis ekonomi sirkular di Indonesia. Proyek ini tidak hanya memperkuat pasokan industri dalam negeri, tetapi juga mendorong transfer teknologi dan kerja sama industri lintas negara,” jelas Lei Lin.
Penerapan teknologi tersebut juga mengoptimalkan pemanfaatan produk samping melalui proses daur ulang, sehingga sangat mendukung pengembangan industri kimia rendah karbon.
Baca Juga: KEK Gresik Serap 30 Persen Investasi KEK Nasional, Nilainya Tembus Rp106,3 Triliun
Direktur Utama PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS)-JIIPE, Bambang Soetiono, menegaskan bahwa keunggulan JIIPE terletak pada integrasi kawasan yang mendukung efisiensi operasional dan keberlanjutan industri secara end-to-end.
“JIIPE dirancang untuk mendukung rantai nilai industri mulai dari ketersediaan bahan baku, infrastruktur, hingga konektivitas logistik. Hal ini memungkinkan efisiensi yang lebih tinggi sekaligus memperkuat daya saing industri secara berkelanjutan,” tegas Bambang.
Senada dengan hal tersebut, Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong, menilai proyek ini sebagai tonggak penting dalam kerja sama ekonomi kedua negara. Menurutnya, rantai industri melamin ini akan memperkuat pasokan produk kimia strategis dan mendukung industrialisasi di Indonesia.
Dengan status sebagai Kawasan Ekonomi Khusus dan dukungan pelabuhan laut dalam, JIIPE memegang posisi strategis dalam mendorong industri berbasis nilai tambah. Proyek pabrik melamin ini diproyeksikan akan memberikan dampak luas.
Dimana menciptakan lebih dari 1.000 lapangan kerja baru, penguatan ekosistem industri hulu dan hilir (pertanian, manufaktur, dan logistik), dan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi regional Jawa Timur.
Pembangunan ini diharapkan menjadi standar baru bagi industri kimia di Indonesia yang lebih hijau dan efisien di masa depan. (han)
Editor : Hany Akasah