Kebomas - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Gresik terus memperkuat peran strategisnya dalam pengembangan pendidikan vokasi sebagai fondasi penyiapan sumber daya manusia (SDM) unggul yang selaras dengan kebutuhan industri.
Upaya ini dilakukan secara sistematis melalui pilar strategi dan rencana aksi lima tahun yang difokuskan pada penguatan kelembagaan, pengembangan kurikulum, peningkatan mutu tenaga pendidik dan instruktur, serta perluasan akses pelatihan dan sertifikasi kompetensi.
Baca Juga: Pertamina Lubricants Dukung Pendidikan Vokasi Hijau di Gresik Lewat Bengkel Sampah SMK
Ketua Kadin Gresik, Choirul Rizal menegaskan vokasi bukan sekadar program pendidikan alternatif, melainkan solusi konkret untuk menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang di Gresik.
“Kadin terus bergerilya mensosialisasikan pendidikan vokasi. Kami sudah mulai berkolaborasi dengan SMK Semen Gresik dan SMK Yasmu sebagai langkah awal menyiapkan SDM yang siap kerja dan tersertifikasi BNSP,” ujarnya disela-sela forum Halal Bihalal bersama anggota, Senin (30/03) di Sekretariat Kadin Gresik.
Baca Juga: Siap Mandiri, Siswa SLB Kemala Bhayangkari 2 Gresik Dibekali Keterampilan Vokasi Menuju Dunia Kerja
Rizal memaparkan, dalam rencana aksi tahun pertama 2025, pihaknya menargetkan sejumlah langkah strategis, di antaranya penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan industri, pemetaan kebutuhan kompetensi sektor unggulan di Gresik seperti manufaktur, migas, logistik, digital, dan maritim, serta pemetaan kualifikasi tenaga pengajar di SMK, perguruan tinggi vokasi dan Balai Latihan Kerja (BLK).
Selain itu, program pelatihan berbasis kompetensi ditargetkan menjangkau hingga 1.000 pencari kerja, didukung kerja sama dengan Apindo, Hipmi dan sedikitnya 10 perusahaan besar di Gresik.
Baca Juga: Bupati Gresik Bersama Kadinsos Salurkan BLT DBHCHT Kepada 213 Warga Kecamatan Benjeng Gresik
Memasuki tahun kedua 2026, fokus diarahkan pada penguatan sistem dan infrastruktur vokasi. Langkah yang ditempuh meliputi penguatan sekretariat Tim Koordinasi Daerah Vokasi (TKDV), penyusunan database tenaga kerja dan kebutuhan industri, serta harmonisasi kurikulum SMK dan BLK sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan kebutuhan lokal.
Program upskilling dan reskilling bagi guru dan instruktur juga digencarkan, termasuk pendirian minimal 10 Tempat Uji Kompetensi (TUK) baru di Gresik. Tidak hanya itu, pembentukan Industry Advisory Council untuk pendidikan vokasi daerah serta implementasi sistem monitoring digital berbasis dashboard menjadi bagian dari strategi penguatan tata kelola.
Bagi siswa, khususnya lulusan SMK, kompetensi yang dimiliki menjadi lebih relevan dan kompetitif. Sementara itu, pemerintah daerah diuntungkan dengan tersedianya tenaga kerja yang siap pakai dan berdaya saing tinggi.
"Program vokasi memberikan dampak multipihak. Bagi sekolah, vokasi membuka akses lebih luas ke industri serta memperkaya pembelajaran berbasis praktik," imbuh Rizal.
Pada kesempatan sama, Kadin Gresik juga memproyeksikan kebutuhan tenaga kerja industri yang signifikan dalam waktu dekat. Salah satunya berasal dari kawasan industri berbasis smelter yang diperkirakan membutuhkan hingga 3.000 tenaga kerja. Kondisi ini semakin menegaskan urgensi penguatan ekosistem vokasi agar mampu menjawab kebutuhan riil dunia industri.
Menanggapi hal ini, Ketua Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menekankan pentingnya sinergi antara dunia pendidikan dan dunia usaha dan industri (DUDI).
"Vokasi harus menjadi jembatan yang konkret antara sekolah dan industri. Ketika kurikulum disusun bersama dan sertifikasi kompetensi diperkuat, maka lulusan akan benar-benar siap masuk dunia kerja,” kata dia.
Editor : Cak Fir