Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Ekonomi Gresik Tumbuh 4,79 Persen, Ini Dinamika, Tantangan dan Peluang yang Bisa Jadi Rujukan

Muhammad Firman Syah • Selasa, 4 Maret 2025 | 16:19 WIB
Aktivitas industri di Kabupaten Gresik terus menggeliat.
Aktivitas industri di Kabupaten Gresik terus menggeliat.

Kebomas – Sebagai kota kedua penyanggah ekonomi di Jawa Timur, Kabupaten Gresik mencatat pertumbuhan ekonomi yang positif pada tahun 2024. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Gresik, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kota pudak 2024 mencapai Rp 119,27 triliun. Angka ini mengindikasikan jika pertumbuhan ekonomi kota berjuluk seribu warung kopi itu naik sebesar 4,79 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala BPS Gresik, Indriya Purwaningsih dalam acara Rilis Pertumbuhan Ekonomi yang digelar di ruang BPS Gresik Senin (03/03) menyampaikan, kinerja ekonomi yang solid ini menunjukkan ketahanan perekonomian daerah dalam menghadapi berbagai dinamika. Baik dari faktor eksternal seperti ketidakpastian ekonomi global, maupun faktor internal yang melibatkan kebijakan pemerintah daerah serta daya beli masyarakat.

"Dalam data yang kami himpun, konsumsi rumah tangga masih menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Gresik, dengan kontribusi 61,27 persen terhadap PDRB dan pertumbuhan sebesar 5,10 persen. Hal ini menunjukkan daya beli masyarakat yang tetap terjaga, meskipun ada tekanan ekonomi secara nasional dan global," ujar Indriya kepada Radar Gresik yang menjadi mitra media dalam penyebarluasan informasi statistik daerah.

Lebih lanjut disampaikan, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi fisik mengalami pertumbuhan 4,81 persen, yang menandakan geliat investasi masih berjalan terutama di sektor properti dan infrastruktur.

"Salah satu hal.menarik yakni komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) mencatat lonjakan tertinggi, tumbuh 13,04 persen. Lonjakan ini tidak terlepas dari pengaruh Pilkada Serentak yang mendorong peningkatan belanja oleh berbagai organisasi masyarakat," tutunya.

Pada sisi yang lain dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib, yang tumbuh 8,88 persen. Hal ini mencerminkan peningkatan alokasi anggaran pemerintah dalam berbagai program pembangunan dan kesejahteraan sosial.

"Industri Pengolahan tetap menjadi sektor dominan, dengan pertumbuhan 6,32 persen. Sebagai daerah dengan basis industri yang kuat, Gresik terus mengandalkan sektor manufaktur sebagai tulang punggung ekonominya," papar Indriya.

Meski demikian, BPS menyebut adanya tantangan dalam distribusi dan konsumsi barang dagangan. Untuk sektor konstruksi perlunya dorongan lebih lanjut dalam investasi infrastruktur.

Disamping itu, Indriya juga menyoroti fenomena deflasi tahunan di Gresik sebesar -0,14 persen pada Februari 2025 yang merupakan pertama kalinya sejak tahun 2024. Menurutnya, deflasi ini disebabkan oleh penurunan harga di sektor Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga, yang mengalami deflasi signifikan -11,46 persen.

"Penurunan harga ini bisa menjadi indikasi efisiensi distribusi energi atau adanya subsidi pemerintah yang menekan biaya hidup masyarakat," kata dia.

Dia mengingatkan bahwa deflasi yang berkepanjangan bisa menjadi indikasi perlambatan ekonomi yang lebih besar. Oleh karena itu, kebijakan yang seimbang diperlukan agar daya beli masyarakat tetap terjaga tanpa menghambat pertumbuhan sektor-sektor strategis.

Tantangan dan Prospek ke Depan

Dalam diskusi yang dihadiri oleh sejumlah OPD di Pemkab Gresik ini, ada beberapa poin penting yang menjadi tantangan dan prospek ke depan disampaikan salah satunya tentang ketergantungan Kabupaten Gresik pada industri pengolahan dan konsumsi rumah tangga dapat menjadi tantangan dalam jangka panjang.

"Pentingnya diversifikasi ekonomi melalui pengembangan sektor ekonomi kreatif, pariwisata, serta teknologi digital, agar ekonomi daerah lebih tahan terhadap guncangan eksternal," tuturnya.

Sementara itu, meski konsumsi rumah tangga tumbuh positif, tren inflasi yang bervariasi menunjukkan perlunya kebijakan untuk menjaga stabilitas harga barang kebutuhan pokok. Program subsidi dan insentif bagi UMKM bisa menjadi langkah strategis untuk menjaga keseimbangan antara konsumsi dan produksi.

Diharapkan dengan pertumbuhan investasi yang masih moderat, pemerintah daerah dapat mendorong lebih banyak investasi di sektor infrastruktur. Pembangunan kawasan industri dan perbaikan akses transportasi dapat meningkatkan daya saing daerah dalam menarik investor baru.

Secara kesimpulan ekonomi Gresik menunjukkan pertumbuhan yang positif dengan laju 4,79 persen pada tahun 2024. Konsumsi rumah tangga dan investasi tetap menjadi pilar utama pertumbuhan, sementara sektor pemerintahan dan industri pengolahan terus menjadi motor penggerak ekonomi daerah.

"Tantangan masih ada, terutama terkait deflasi, stagnasi sektor perdagangan, serta perlunya diversifikasi ekonomi. Oleh karena itu, strategi kebijakan yang lebih fokus pada inovasi industri, peningkatan daya beli masyarakat, dan optimalisasi investasi infrastruktur akan menjadi faktor kunci dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Gresik agar tetap berkelanjutan," pungkas Indriya.

Dia berharap laporan ini dapat menjadi acuan bagi pemangku kebijakan dan pelaku usaha dalam merumuskan langkah-langkah strategis ke depan. Dengan kolaborasi yang baik antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dapat membawa Gresik menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berdaya saing.

Editor : Cak Fir
#Pertumbuhan Ekonomi #deflasi #bps #ekonomi #Fenomena #PDRB