RADAR GRESIK - Pagi itu, aroma khas bubur Madura buatan Tabiah menyebar di sudut Pasar Gresik. Perempuan paruh baya ini memulai harinya seperti biasa—mengaduk bubur dengan penuh harap, menunggu pelanggan yang semakin jarang datang. Namun, sejak pandemi COVID-19 melanda, harapan itu terasa makin berat.
"Dulu, saya bisa menjual banyak. Tapi saat pandemi, saya terpaksa mengurangi porsi jualan karena pembeli semakin sedikit," ungkapnya pelan, matanya menerawang ke meja kecil tempat ia menata mangkuk buburnya.
Meski pandemi telah berlalu, situasi tak kunjung membaik. Pasar tradisional tetap sepi, kecuali di hari Minggu. Pada hari itu, dagangannya cepat habis—momen langka yang membuatnya merasa pasar masih punya harapan. Namun, selebihnya, hari-hari di pasar terasa seperti menunggu yang tak pasti.
“Kalau hari biasa, penjual lebih banyak dari pembeli,” katanya sambil mengaduk perlahan panci besar di depannya.
Tabiah, seperti banyak pedagang pasar lainnya, merasa perjuangan ini semakin berat karena perhatian terhadap fasilitas pasar yang minim. Masalah kebersihan menjadi keluhan utama.
“Pasar ini kurang bersih. Setiap kali ada penilaian Adipura, pasar kita tidak pernah menang. Sepertinya, kebersihan di sini tidak terlalu diperhatikan,” tuturnya.
Bagi pedagang seperti Tabiah, pasar bukan hanya tempat mencari nafkah, tapi juga simbol hidup masyarakat yang kini tampak tergerus modernisasi.
Banyak pembeli lebih memilih belanja di tempat yang lebih nyaman, seperti pasar modern atau toko daring. Akibatnya, pendapatan pasar tradisional kian merosot. Bahkan, pada tahun 2023, penerimaan retribusi pasar di Gresik dilaporkan turun lebih dari Rp 500 juta.
“Pendapatan menurun, kebersihan kurang, bagaimana pasar ini bisa maju?” tanyanya dengan nada penuh kekhawatiran.
Namun, meski penuh tantangan, Tabiah tetap datang ke pasar setiap pagi. Ia menyusun mangkuk-mangkuk buburnya dengan hati-hati, berharap pelanggan yang datang akan terus mendukungnya.
Di tengah hiruk pikuk modernisasi, kisah Tabiah menggambarkan betapa sulitnya bertahan di pasar tradisional. Ia, bersama pedagang lainnya, berharap pemerintah lebih memperhatikan kondisi pasar. Revitalisasi pasar bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga soal memberikan rasa nyaman bagi pedagang dan pembeli.
Senyum kecil Ibu Tabiah kembali muncul ketika seorang pembeli mendekat, memesan semangkuk bubur hangat darinya.
Dalam perjuangan kecil itu, ia menggenggam harapan—bahwa pasar ini suatu hari nanti akan kembali hidup, menjadi tempat bertemunya manusia dengan segala keragamannya, seperti yang pernah ia kenal dulu.
Pasar Gresik adalah nadi kehidupan yang kini tengah melemah, namun para pedagang seperti Tabiah adalah jantung yang tetap berdetak, berusaha menjaga warisan budaya dan kehidupan pasar tetap bertahan di tengah tantangan zaman.(nov/han)
Editor : Hany Akasah