“Kami mengakselerasi penerapan Green Port di TUKS Petrokimia Gresik, untuk mendorong kelancaran operasional bisnis, termasuk distribusi pupuk bersubsidi ke berbagai daerah di Indonesia,” ujar Dwi Satriyo.
Konsep green port menjadikan proses kepelabuhanan Petrokimia Gresik semakin efektif, efisien dan ramah lingkungan. Sehingga, mengoptimalkan cost reduction program yang telah dijalankan oleh pihak perusahaan. Salah satu konsep green port adalah,mengatur upaya peningkatan pengelolaan energi yang efisien di pelabuhan. Beberapa implementasi yang telah dilakukan di antaranya, pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk gedung dan perkantoran, penggunaan sepeda motor listrik, mengganti lampu penerangan konvensional dengan LED, penerapan green building, penyediaan shore connection untuk suplai energi kapal, serta pemanfaatan CCTV pada Digital Port Supervising (aplikasi Petroport).
Tidak hanya itu, konsep green port juga diimplementasikan melalui peningkatan kualitas kebersihan daratan dan perairan kolam daerah lingkungan kerja. Dengan cara melanjutkan apa yang sudah dilakukan secara rutin, seperti meminimalisasi pencemaran limbah cair, sampah domestik dan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), menjaga kualitas udara dengan mengurangi emisi gas karbon dan gas rumah kaca, serta kebisingan.
Upaya tersebut membawa Petrokimia Gresik mendapatkan skor 82,8 alias tertinggi pada ajang Anugerah Green Port Award 2022. Nilai yang didasarkan pada aspek manajemen, teknis dan digitalisasi. Aspek yang masuk dalam lingkup kepelabuhanan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), lingkungan serta energi. "Green port sudah menjadi kebutuhan bagi Petrokimia Gresik, sebagai salah satu instrumen dalam meningkatkan daya saing usaha. Apalagi, Petrokimia Gresik mendapatkan amanah penyaluran pupuk bersubsidi untuk menjaga ketahanan pangan nasional," pungkasnya. (fir/han) Editor : Hany Akasah