Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Mengungkap Kisah Nyai Ageng Pinatih: Saudagar Perempuan yang Besarkan Sunan Giri

Riri Masfardian • Senin, 22 September 2025 | 17:45 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

RADAR GRESIK – Dalam sejarah penyebaran Islam di Tanah Jawa, nama Nyai Ageng Pinatih dikenang bukan hanya sebagai saudagar perempuan yang sukses di Pelabuhan Gresik, tetapi juga sebagai sosok penuh kasih yang berperan besar dalam perjalanan hidup salah satu Wali Songo, Sunan Giri.

Kisah bermula pada tahun 1443 M, ketika Nyai Ageng Pinatih bersama Syekh Muhammad Shobar dan Syekh Muhammad Shobir menemukan sebuah peti mengapung di tengah laut.

Setelah didorong oleh keberanian dan rasa ingin tahu, kedua Syekh tersebut mengambil peti itu. Di dalamnya, mereka menemukan seorang bayi. Nyai Ageng Pinatih pun memutuskan untuk merawat dan membesarkan bayi tersebut, memberinya nama Joko Samudro.

Dengan kelembutan hati seorang ibu, Nyai Ageng Pinatih membesarkan Joko Samudro hingga tumbuh sehat dan kuat. Sebagai seorang saudagar kaya, ia menggunakan hasil perdagangannya untuk membiayai kehidupan dan pendidikan anak angkatnya tersebut.

Pada tahun 1445 M, atas bimbingannya, Joko Samudro disekolahkan di pondok milik Sunan Ampel di Surabaya dan diberi nama baru, Raden Paku. Langkah ini membuktikan bahwa di balik kesuksesannya sebagai pedagang, Nyai Ageng Pinatih memiliki visi keilmuan dan spiritualitas yang jauh ke depan.

Seiring waktu, Raden Paku tumbuh menjadi ulama besar dan mendirikan Pesantren Giri, yang kemudian menjadi pusat dakwah Islam di Nusantara. Di balik kebesaran nama Sunan Giri, sejarah mencatat peran besar Nyai Ageng Pinatih. Tanpa kasih sayang dan dukungan tanpa pamrihnya, perjalanan hidup Raden Paku mungkin tidak akan sama.

Hingga kini, jejak keteladanan Nyai Ageng Pinatih masih terasa di Gresik. Makamnya yang berada di Kelurahan Kebungson, Kecamatan Gresik, sering diziarahi masyarakat. Ziarah ini menjadi pengingat akan ketulusan seorang perempuan yang berhasil memadukan peran sebagai saudagar, dermawan, sekaligus ibu pengasuh bagi seorang calon wali.

Kisah ini bukan hanya catatan sejarah, melainkan juga pelajaran berharga tentang kasih sayang dan dukungan tulus yang mampu melahirkan generasi penerus yang membawa perubahan besar bagi masyarakat. (zah/rir) 

Editor : Hany Akasah
#nyai ageng pinatih #Islam #gresik #sejarah #sunan giri #Kebungson