Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Dampak Industri Gresik, Nelayan Kroman Banting Setir Jadi Taksin Laut, Demi Dapur Tetap Ngebul

Fajar Yuliyanto • Senin, 30 Juni 2025 | 17:38 WIB

 

Para nelayan tradisional di Kelurahan Kroman, Gresik, yang dulunya menggantungkan hidup dari hasil melaut, kini banyak yang terpaksa beralih profesi.
Para nelayan tradisional di Kelurahan Kroman, Gresik, yang dulunya menggantungkan hidup dari hasil melaut, kini banyak yang terpaksa beralih profesi.

RADAR GRESIK - Potret perubahan ekonomi pesisir Gresik semakin nyata. Para nelayan tradisional di Kelurahan Kroman, Gresik, yang dulunya menggantungkan hidup dari hasil melaut, kini banyak yang terpaksa beralih profesi.

Bukan lagi mengandalkan jaring, mereka kini menjadi penambang atau 'taksin' laut, yakni penyedia jasa antar-jemput Anak Buah Kapal (ABK) dari kapal-kapal barang di sekitar dermaga industri. Pergeseran ini terjadi demi mencukupi kebutuhan sehari-hari yang kian mendesak.

Fenomena ini muncul seiring dengan penyempitan area tangkap ikan akibat masifnya pembangunan dermaga baru oleh perusahaan-perusahaan besar di pesisir Gresik. Jika pun masih melaut, para nelayan harus mencari ikan di perairan yang jauh lebih dalam dan memakan waktu. Kondisi inilah yang mendorong sebagian besar dari mereka untuk memilih jalur profesi baru yang lebih menjanjikan secara finansial.

 Baca Juga: Gresik Kota Industri, UMKM Wajib Tahu Ini, Peluang Bisnis Melesat Berkat NIB Gratis

Fukron, warga Kelurahan Kroman yang dulunya nelayan aktif, mengaku telah beralih pekerjaan sejak lima tahun terakhir. "Di sini sudah tidak ada tempat untuk menjaring, orang jaring sudah enggak ada tempat. Karena ini perusahaan berjejer-jejer sampai di daerah Mengare sana," keluhnya.

Menurut Fukron, hasil melaut kini tak lagi mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarga, sehingga ia harus beralih menjadi penambang ABK. Pendapatan dari jasa antar-jemput ini memang tidak menentu, namun cenderung lebih stabil dibanding melaut. Biasanya, ia bisa mengantar hingga 10 penumpang sehari dengan tarif Rp 25.000 per orang. Mayoritas penumpangnya adalah ABK yang ingin ke darat untuk membeli kebutuhan logistik.

"Dulu waktu jadi nelayan, sehari bisa dapat sekitar ratusan kilo, namun sekarang hasilnya cuma bisa buat dimasak sendiri. Kadang sepi, kadang ramai. Enggak pasti," jelasnya, membandingkan masa lalu dan kini.

Di salah satu balai nelayan tempat Fukron berada, kini hanya tersisa tiga hingga empat orang yang masih setia melaut. Sebagian besar memilih menggantung jaring dan beralih mengandalkan pesanan dari kapal barang via telepon seluler. "Kalau di balai sana, masih banyak nelayannya. Kalau di sini cuma dua sampai empat orang saja," tambahnya.

Kisah serupa juga dialami Syahid, nelayan senior yang tetap bersemangat meski tak lagi muda. Ia bertahan dengan berbagai pekerjaan serabutan: mulai dari menjaring ikan, mengantar ABK, hingga berjualan sayur dan buah ke kapal-kapal. Syahid mulai merasakan penurunan hasil tangkapan sejak delapan tahun lalu, dan akhirnya menjadi penambang ABK sejak empat tahun terakhir.

"Apapun yang ada rezekinya, saya kerjakan. Tangkapan ikan sangat sepi, sedari banyaknya pabrik di sini. Ya Allah. Jadi kerjanya saya seadanya, kadang nambang, kadang jualan, kadang nelayan," tuturnya pasrah namun optimis.

Dulu, pantai Kroman ramai dengan aktivitas penangkapan ikan. Kini, pemandangan didominasi kapal-kapal barang yang membongkar muatan dari perusahaan. Namun, semangat para mantan nelayan ini tak padam. Sebuah panggilan telepon dari kapal bisa berarti rezeki hari itu. "Kalau enak-enaknya ya enak nelayan sebenarnya, tapi kan tangkapannya sangat sepi. Jadinya kami banyak yang beralih menjadi penambang. Biasanya kami mengantar lewat telepon dari kapal barang. Kalau sudah langganan, kami ditelpon untuk kami jemput," pungkas Fukron. (jar/han)

Editor : Hany Akasah
#kelurahan #Barang #ABK #Kapal #gresik #nelayan #Fenomena #Kroman