Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Program Makan Bergizi Gratis di Gresik Menuai Kritik, DPRD Desak Mitigasi dan Evaluasi Ketat

Fajar Yuliyanto • Sabtu, 28 Februari 2026 | 07:59 WIB

SUASANA : Wakil Ketua DPRD Gresik, Ahmad Nurhamim.
SUASANA : Wakil Ketua DPRD Gresik, Ahmad Nurhamim.

RADAR GRESIK - Pelaksanaan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan di Kabupaten Gresik kini tengah menjadi sorotan tajam.

Alih-alih memberikan asupan nutrisi yang optimal bagi siswa, distribusi paket makanan di lapangan justru memicu keluhan dari para orang tua terkait kelayakan konsumsi dan standar gizi yang diberikan.

Menyikapi fenomena tersebut, Wakil Ketua DPRD Gresik, Ahmad Nurhamim, menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak boleh lepas tangan.

Meski MBG merupakan instruksi pusat, aspek keamanan pangan bagi warga lokal tetap menjadi prioritas utama yang harus dijamin oleh pemangku kebijakan di daerah.

“MBG ini program nasional, tapi penerima manfaatnya adalah masyarakat kami. Kami punya kewajiban memastikan program ini sukses dan tidak membahayakan, jangan sampai ada yang sampai keracunan, maka mitigasi harus benar-benar dilakukan,” ujar pria yang akrab disapa Anha tersebut.

Anha menjelaskan bahwa DPRD Gresik terus menjalankan fungsi pengawasan meski secara pasif dalam hal operasional teknis.

Ia menekankan pentingnya peran satuan tugas (satgas) daerah untuk tidak hanya fokus pada pembangunan fisik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), tetapi juga menjamin distribusi menu yang tepat sasaran dan berkualitas.

Menurutnya, evaluasi menyeluruh dari pemerintah pusat sangat diperlukan agar program tetap mengedepankan standar gizi yang sesuai.

Keresahan masyarakat ini didasari oleh temuan di beberapa wilayah. Di Kecamatan Ujungpangkah, salah satu orang tua siswa berinisial AI mengungkapkan bahwa sekolah membagikan paket makanan kering yang ditujukan untuk jatah tiga hari (23–25 Februari 2026).

Paket tersebut hanya berisi dua roti, tiga butir telur, sedikit kacang, satu susu UHT, serta jeruk dan apel.

“Ini paket diambil di sekolah, hanya dapat ini. Apalagi telurnya itu kurang matang, jadi agak basi ketika dimakan, kondisinya juga pecah,” terang AI yang meragukan kecukupan gizi paket tersebut untuk kebutuhan tiga hari.

Persoalan serupa juga muncul di Kecamatan Driyorejo. Di wilayah ini, paket MBG didistribusikan dalam bentuk makanan matang menyerupai takjil, seperti kolak ketan, lumpia, dan nugget yang dikemas dalam plastik mika tipis.

Kondisi ini membuat para orang tua khawatir makanan akan basi sebelum waktu berbuka puasa tiba. Beberapa wali murid bahkan terpaksa membuang makanan tersebut karena ragu akan ketahanannya, sehingga manfaat dari program ini tidak terserap dengan maksimal. (jar/han) 

Editor : Hany Akasah
#ANha #gresik #Mbg #dprd #Kritik