RADAR GRESIK – Musim kemarau yang melanda wilayah Kabupaten Gresik justru menjadi momen berkah bagi para petani tembakau. Kondisi cuaca yang cenderung kering dinilai sangat ideal untuk menunjang pertumbuhan tanaman, sehingga luas tanam tembakau pada tahun 2026 diproyeksikan mengalami lonjakan dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Gresik, Choirul Fatikin, menjelaskan bahwa musim tanam tembakau telah dimulai sejak Juli dan akan berlangsung hingga September 2026, dengan masa budidaya sekitar 120 hingga 150 hari.
Sebagai salah satu komoditas perkebunan semusim bernilai ekonomi tinggi, tembakau memberikan peluang keuntungan signifikan bagi petani jika diimbangi dengan teknik perawatan yang tepat.
"Musim kemarau yang cukup panjang saat ini sangat mendukung perkembangan dan produksi tembakau. Kondisi ini menjadi momentum bagi petani untuk meningkatkan hasil panen," ujar Choirul Fatikin, Sabtu (25/7/2026).
Choirul memaparkan bahwa budidaya tembakau di Kabupaten Gresik tersebar di beberapa kawasan, seperti Kecamatan Balongpanggang, Benjeng, Cerme, Wringinanom, Menganti, Driyorejo, Bungah, dan Dukun. Adapun wilayah dengan potensi pengembangan terbesar berada di Balongpanggang, Benjeng, dan Cerme.
Baca Juga: Dukung Lingkungan Sehat, Rutan Kelas IIB Gresik Bagikan Perlengkapan Mandi Kepada Warga Binaan
Berdasarkan data Dispertan Gresik, realisasi luas panen tembakau pada 2025 lalu tercatat mencapai 170,5 hektare. Sementara pada tahun 2026 ini, target luas tanam dinaikkan menjadi 258 hektare.
"Hingga saat ini realisasi tanam telah mencapai sekitar 158 hektare dan masih berpotensi bertambah karena masa tanam masih terus berjalan," tambahnya.
Mayoritas petani di Gresik membudidayakan tembakau varietas Jinten Pakpei. Dalam hal penyerapan hasil panen, sebagian besar petani telah menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan seperti PT Sadana dan Marabu, sedangkan sebagian lainnya mengelola budidaya secara mandiri maupun intensifikasi.
Baca Juga: Dukung Lingkungan Sehat, Rutan Kelas IIB Gresik Bagikan Perlengkapan Mandi Kepada Warga Binaan
Saat ini, usia tanaman tembakau di lahan milik petani bervariasi, mulai dari tiga minggu hingga 40 hari. Dispertan Gresik berharap hasil panen mendatang dapat diserap secara optimal oleh pihak pabrikan dengan penawaran harga yang wajar dan menguntungkan.
"Dispertan mengimbau para petani untuk tetap menjaga kualitas tanaman dengan melakukan perawatan secara telaten, mulai dari penyiraman, penggemburan tanah, hingga menerapkan jarak tanam yang ideal. Langkah tersebut penting untuk menghasilkan tembakau berkualitas tinggi sekaligus meningkatkan nilai jual saat panen nanti," pungkasnya. (jar/han)
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Gresik