RADAR GRESIK – Menjelang bergulirnya tahun ajaran baru 2026/2027, persiapan operasional gedung permanen Sekolah Rakyat (SR) di Desa Raci Tengah, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik terus dikebut.
Menariknya, muncul wacana bahwa fasilitas asrama dan gedung baru ini nantinya juga akan menampung sementara (numpang tinggal) para siswa Sekolah Rakyat asal Kabupaten Lamongan.
Langkah ini mencuat sebagai solusi alternatif lantaran Sekolah Rakyat di wilayah Lamongan hingga saat ini belum memiliki bangunan fisik yang siap pakai untuk proses belajar mengajar.
Baca Juga: Revolusi Pendidikan, SRMA 37 Sidayu Gresik Segera Bertransformasi Jadi Sekolah Rakyat Terintegrasi
Kepala SRMA 37 Gresik, Rangga Pratama Wahyudiarta, mengungkapkan bahwa pada tahun ajaran perdana nanti, SR Gresik diproyeksikan menampung masing-masing 90 siswa untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Namun, kuota tersebut kemungkinan akan bertambah seiring adanya rencana penitipan sekitar 60 siswa jenjang SMA dari Lamongan.
“Gresik sudah memiliki gedung permanen, sementara Lamongan saat ini masih dalam proses verifikasi lahan dan gedung permanennya belum dibangun. Karena itu, muncul wacana siswa dari Lamongan untuk sementara waktu ikut belajar dan tinggal di SR Gresik,” ujar Rangga, Senin (1/6/2026).
Kendati demikian, Rangga menegaskan bahwa rencana lintas daerah ini masih bersifat proyeksi awal dan belum berstatus final. Keputusan teknis operasionalnya masih harus menunggu regulasi dan kebijakan resmi dari Kementerian Sosial (Kemensos) RI serta pemerintah daerah terkait.
Baca Juga: Sidak Proyek Sekolah Rakyat di Sidayu Gresik, Gus Yani Optimistis Rampung Juni
"Sifatnya masih wacana, walaupun sinyal itu memang sudah kami terima dari Kemensos. Untuk pembahasan teknis yang lebih detail, sejauh ini belum dilakukan," jelasnya.
Rangga merincikan, puluhan anak yang rencananya akan dititipkan tersebut merupakan calon siswa baru Sekolah Rakyat Lamongan yang duduk di bangku kelas X SMA. Mereka hanya akan menggunakan fasilitas di Gresik sebagai rumah singgah sementara hingga pembangunan sekolah di daerah asal mereka rampung.
Penempatan siswa antar-kabupaten ini sangat dimungkinkan terjadi mengingat konsep pengelolaan Sekolah Rakyat berada langsung di bawah komando pemerintah pusat melalui Kemensos, bukan dinas pendidikan daerah setempat.
Baca Juga: Nekat Beraksi di Gresik, Residivis Curanmor Asal Surabaya Tumbang Ditembus Timah Panas
Oleh karena itu, masyarakat maupun pihak sekolah tidak perlu khawatir terkait pembengkakan biaya operasional lokal. Seluruh pos anggaran, mulai dari logistik makan harian siswa hingga fasilitas asrama, sepenuhnya ditanggung oleh pusat.
"Untuk kebutuhan makan harian dan operasional lainnya, semua menggunakan anggaran dari Kemensos," pungkas Rangga.
Hingga saat ini, proyek pengerjaan fisik bangunan Sekolah Rakyat Gresik di Sidayu terus dipacu agar target penyelesaian bisa tercapai tepat waktu sebelum kalender akademik baru dimulai. (jar/han)
Editor : Hany Akasah