RADAR GRESIK - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Gresik menggelar forum konsultasi publik bertajuk “Masih Relevankah Buku Disebut Jendela Dunia” dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional.
Kegiatan yang dilaksanakan di kantor Dispusip Gresik ini menghadirkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari komunitas literasi, penggiat taman baca, penulis, guru, hingga pelaku pendidikan guna membedah tantangan budaya membaca di tengah kepungan era digital.
Kepala Dispusip Kabupaten Gresik, Budi Raharjo, mengungkapkan bahwa tugas dan tanggung jawab instansinya dalam mengawal literasi masih menjadi prioritas utama. Kendati demikian, ia tidak menampik adanya perubahan pola yang masif pada cara masyarakat mengakses informasi saat ini, terutama akibat pengaruh media sosial.
Baca Juga: FKKG Gresik Gelar Seleksi COC Season 2 Berbasis Digital, Jaring Siswa SD Berbakat di Tiap Kecamatan
“Dinas perpustakaan itu produk layanannya adalah buku. Tetapi sekarang kami melihat masih ada. Kalau 20 sampai 30 tahun lalu perpustakaan sangat dibutuhkan karena tingkat buta huruf masih tinggi, sekarang masyarakat hampir semuanya sudah bisa membaca dan menulis, bahkan sangat kreatif di media sosial (Medsos),” kata Budi, Selasa (19/5/2026).
Menurut Budi, tantangan masa kini telah bergeser. Permasalahannya bukan lagi soal kemampuan membaca, melainkan bagaimana masyarakat menyaring informasi dengan bijak di tengah derasnya arus dunia siber.
Berdasarkan data internal Dispusip Gresik, fenomena unik terjadi di mana jumlah pengunjung perpustakaan sebenarnya mengalami peningkatan. Namun, angka peminjam aktif buku justru menyusut hingga 31 persen. Di sisi lain, jumlah buku yang dibawa pulang secara total justru melonjak 33 persen.
Baca Juga: Jatuh Terluka di Sawah Menganti, Damkarla Gresik Evakuasi Elang Jawa Langka
“Kalau dulu satu orang meminjam dua buku, sekarang bisa empat buku. Tetapi tingkat kegemaran membaca memang mengalami penurunan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa tingkat kegemaran membaca masyarakat Gresik pada tahun 2025 secara angka berada di atas rata-rata Jawa Timur, yang secara umum wilayah provinsi justru tengah mengalami tren penurunan.
“Alhamdulillah tahun ini di atas rata-rata Jawa Timur turun yang gemar membaca. Jadi Kabupaten Gresik selalu di bawah rata-rata Jawa Timur gemar membaca. Tahun 2025 rata-rata yang gemar membaca di Gresik itu naik, bukan rencana kenaikan, tapi karena rata-rata se-Jawa Timur turun,” tuturnya tegas.
Baca Juga: Jadi Proyek Percontohan, Posyandu Sidomoro Gresik Transformasi Terapkan 6 Standar Pelayanan Minimal
Di sisi lain, Arista Mahardika selaku pemateri dalam forum tersebut menyuarakan pandangan optimistis bahwa buku fisik tetap memegang peran krusial yang tidak tergantikan oleh gawai. Baginya, buku melatih sesuatu yang mulai hilang di era modern, yaitu fokus dan empati mendalam.
“Buku itu satu-satunya media yang bisa membuat kita duduk, fokus, dan memahami pemikiran orang lain secara mendalam. Hal itu tidak saya dapatkan ketika membaca lewat handphone atau media sosial,” terang Arista.
Ia mengingatkan bahwa kebiasaan membaca cepat (skimming) atau menggulir layar (scrolling) di media sosial secara tidak sadar melatih otak untuk hanya menerima informasi instan, yang berakibat pada menurunnya daya konsentrasi saat membaca teks panjang.
Baca Juga: Gandeng BRIN, Terminal Teluk Lamong Sulap Pelabuhan Jadi Oase Konservasi Titik Hijau
“Ketika membaca buku, kita justru lebih empati dan lebih memahami orang lain karena kita benar-benar fokus,” tambahnya.
Momen peringatan ini juga diwarnai dengan aksi nyata dukungan swasta terhadap dunia literasi. Perwakilan PT Smelting Gresik, Rahmayani, menyerahkan bantuan total 26 buku untuk tiga Madrasah Ibtidaiyah (MI), yakni MI Al-Karimi, MI Esther Biatul Sibiat, dan MI Islamiyah Sidorukun.
Rahmayani menjelaskan bahwa PT Smelting Gresik secara konsisten sejak tahun 2014 terus menyokong gerakan literasi lewat kerja sama dengan para penulis dan komunitas lokal guna menerbitkan karya-karya bertema kearifan lokal Gresik.
Baca Juga: Teken MoU US$1 Juta di Shanghai, Pengusaha Gresik Siap Ekspor Komoditas Laut ke Tiongkok
“Buku harus tetap ada karena menjadi salah satu jendela dunia. Bagaimana kita bisa membuka dunia kalau kita tidak membaca. Berharap budaya membaca terus berkembang di kalangan generasi muda, baik melalui buku cetak maupun e-book, agar literasi tetap tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital,” pungkas Rahmayani. (jar/han)
Editor : Hany Akasah