RADAR GRESIK – Momentum Hari Bumi menjadi alarm bagi stakeholder di Kabupaten Gresik untuk lebih serius menangani persoalan sampah plastik.
Fraksi PKB DPRD Gresik menggelar dialog publik, Rabu (23/4) guna menyelaraskan langkah antara pemerintah, legislatif, dan pegiat lingkungan dalam menghadapi ancaman limbah yang kian mengkhawatirkan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik, Sri Subaidah, mengungkapkan bahwa komitmen menekan sampah plastik mulai menunjukkan hasil positif. Saat ini, tercatat ada 317 ritel modern di Kota Pudak yang telah berkomitmen untuk tidak lagi menyediakan kantong plastik sekali pakai.
Baca Juga: Janji Fasum Tak Kunjung Terwujud, Warga Satya Grand City Kedanyang Wadul ke Komisi III DPRD Gresik
“Masyarakat mulai sadar, dan kebijakan di 317 ritel ini sangat signifikan mengurangi volume sampah plastik di hulu,” ujar Sri Subaidah dalam dialog tersebut.
DLH kini mengarahkan pengelolaan sampah pada konsep economy green, di mana pertumbuhan ekonomi harus selaras dengan kelestarian alam. Pengembangan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) juga dipercepat agar sampah yang berakhir di TPA Ngipik hanya berupa residu. Bahkan, di TPA Ngipik kini diterapkan landfill mining untuk mengurai timbunan sampah lama yang mencapai lebih dari satu juta ton.
Ketua DPRD Gresik, Muhammad Syahrul Munir, menekankan bahwa persoalan sampah bukan sekadar masalah teknis, melainkan masalah kesadaran dan kebijakan. Ia menyoroti pentingnya kesadaran menyusun anggaran penanganan sampah yang memadai.
Baca Juga: Sri Subaidah, Sosok Kartini Hijau di Balik Misi Penyelamatan Lingkungan Gresik
“Persoalan lingkungan di Gresik ini isu klasik. Volume sampah naik, tapi kemampuan kelola tetap. Kita harus dorong pengelolaan hingga tingkat rumah tangga. Sampah organik harus selesai di rumah menjadi pakan atau pupuk,” tegas Syahrul.
Politisi muda PKB ini juga menambahkan bahwa keseriusan daerah dalam mengelola sampah dapat diukur dari efektivitas retribusi pelayanan persampahan yang transparan dan akuntabel.
Sorotan tajam datang dari pegiat lingkungan Yayasan Ecoton, Prigi Arisandi. Ia memaparkan fakta mengerikan mengenai ancaman mikroplastik yang kini sudah masuk ke dalam tubuh manusia.
Baca Juga: Ubah Sampah Jadi Bahan Bakar, DLH Gresik Olah Residu Pasar Sidayu Jadi Energi Alternatif
“Indonesia salah satu konsumen plastik terbesar. Hasil penelitian menunjukkan mikroplastik kini ditemukan dalam darah manusia, feses, hingga air ketuban. Ini sangat berbahaya karena dapat memperlambat fungsi otak,” ungkap Prigi.
Ia juga mengingatkan bahwa hanya sekitar 9 persen sampah plastik yang berhasil didaur ulang, sementara sisanya mencemari lingkungan dan masuk ke rantai makanan, mulai dari perut hiu tutul hingga vegetasi mangrove.
Melalui dialog ini, Fraksi PKB mendesak adanya aksi nyata dari desa-desa di Gresik untuk meniru keberhasilan Desa Randuboto dalam mengelola sampah secara mandiri, demi mewujudkan Gresik yang lebih asri dan sehat bagi generasi mendatang. (jar/han)
Editor : Hany Akasah