RADAR GRESIK — Warga kawasan Bunder, khususnya di wilayah Perumahan Citrasari Regency Cerme, Kabupaten Gresik, dibuat resah oleh bau menyengat yang tercium sejak beberapa hari terakhir. Bau tersebut menyerupai aroma gas LPG bocor, memicu kekhawatiran akan potensi bahaya bagi kesehatan dan keselamatan lingkungan sekitar.
Sejumlah warga mengaku bau menyengat paling kuat tercium pada malam hingga dini hari, dengan intensitas yang berubah-ubah namun cukup mengganggu aktivitas dan waktu istirahat. Bahkan, beberapa warga sempat khawatir terjadi kebocoran gas di lingkungan permukiman.
“Baunya seperti gas terbakar, perih di hidung dan bikin pusing. Kami sempat takut ada kebocoran gas di rumah,” ujar salah satu warga Citrasari, Dian, Minggu (28/12).
Setelah ditelusuri secara mandiri oleh warga, bau tersebut diduga berasal dari aktivitas salah satu pabrik di kawasan industri Ambeng-Ambeng, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari permukiman warga Bunder. Dugaan ini menguat karena bau serupa kerap muncul bersamaan dengan jam operasional tertentu pabrik.
Dian salah satu warga menilai kondisi ini tidak bisa dianggap sepele. Selain menimbulkan ketidaknyamanan, bau menyengat dikhawatirkan berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, lansia, dan warga dengan gangguan pernapasan. Pasalnya, di perumahan tersebut banyak anak-anak kecil.
“Kami berharap ada pengecekan serius. Jangan sampai warga jadi korban pencemaran udara,” tambah warga lainnya.
Masyarakat pun mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH), untuk segera turun tangan melakukan pengukuran kualitas udara, inspeksi lapangan, serta menindak tegas apabila terbukti terjadi pelanggaran lingkungan oleh pihak industri.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pabrik maupun instansi terkait mengenai sumber pasti bau menyengat tersebut. Kepala Bidang Pengendalian dan Pencemaran Lingkungan Jauzi juga belum merespon. Sedangkan, semakin malah bau gas menyengat makin menyeruak. Warga berharap penanganan cepat dilakukan agar situasi tidak berlarut-larut dan menimbulkan dampak yang lebih serius. (*)
Editor : Hany Akasah