Oleh : Muhammad Firman Syah
Kebomas — Pagi itu, matahari baru saja meninggi di atas langit Kota Gresik. Di lantai 6 Icon Apartmen, suara keras seperti benda jatuh memecah rutinitas penghuni. Tak ada yang menyangka, suara itu adalah akhir dari perjalanan seorang perempuan muda yang selama ini hidup dalam diam. Jauh dari tanah kelahirannya, jauh dari keluarga, dan mungkin jauh dari pengharapan.
Namanya Ira Lutfiati. Usianya baru 24 tahun. Ia berasal dari sebuah desa kecil di Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Dalam sunyi apartemen berlantai 30 itu, ia sehari-hari menjalani hidup sebagai asisten rumah tangga. Bekerja, merawat, membersihkan dan menyimpan beban yang tak pernah ia bagi.
Ira telah setahun tinggal di unit lantai 30 apartemen, membantu keluarga majikannya. Tidak banyak yang tahu tentang keseharian perempuan muda itu. Tetangga pun jarang melihatnya keluar, kecuali ketika membuang sampah atau sekadar mengambil pesanan daring di lobi. Di kota besar seperti Gresik, asisten rumah tangga kadang menjadi sosok yang nyaris tak terlihat, walau keberadaannya sangat dirasakan.
Namun Minggu pagi itu, namanya menjadi pusat perhatian. Jasadnya ditemukan di lantai 6, tergeletak diam tanpa daya. Petugas keamanan, penghuni apartemen, hingga kepolisian berdatangan.
Kertas kecil yang ditemukan di dekat jendela apartemen lantai 30 menjadi satu-satunya suara dari dirinya yang tersisa. Sebuah catatan bertinta tangan yang lirih dan mengharukan ungkapan kelelahan seorang anak kepada ibunya, kepada Tuhannya.
“Mama, aku capek banget...” demikian salah satu penggalan pesannya.
Bagi Kompol Gatot Setyo Budi, Kapolsek Kebomas, ini bukan hanya sekadar laporan olah TKP. Ini adalah panggilan untuk menelisik lebih jauh tentang tekanan psikologis yang kerap dialami para pekerja informal, terutama perempuan muda di perantauan.
"Dari keterangan saksi dan majikan, korban sempat mengungkapkan beban masalah keluarga yang cukup berat," ungkapnya.
Di sisi lain, Wisnu Kusuma Wardhana, Building Manager Icon Apartment, mencoba merangkai peristiwa ini dalam kerangka tanggung jawab kolektif. Ia memastikan bahwa secara teknis, setiap unit apartemen memiliki pagar dan standar keamanan sesuai ketentuan.
Kisah Ira bukan hanya catatan statistik tentang insiden. Ia adalah potret tentang ribuan pekerja domestik yang hidup dalam bayang-bayang ekonomi, sosial, dan kesepian. Ia mungkin pernah menelpon ibunya, mungkin menangis di malam hari, mungkin berdoa dalam diam tapi semua itu tertahan di balik tembok lantai 30 yang sunyi.
Kini, banyak tanya menggantung, Apa yang bisa kita lakukan agar suara-suara seperti Ira tidak lagi berakhir di selembar kertas? Ira telah pergi. Tapi kisahnya tetap tertinggal. Sebagai pengingat, bahwa di balik jendela-jendela kaca apartemen, bisa jadi ada jiwa-jiwa yang sedang rapuh menunggu didengar, dipeluk, dan dipahami.
Catatan Redaksi:
Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami tekanan emosional, mohon jangan ragu menghubungi profesional atau layanan konseling. Hidup Anda sangat berharga.
Editor : Cak Fir