RADAR GRESIK – Keluarga Rianto, pemilik rumah di Jalan Mayjen Sungkono 14C Nomor 45, Dusun Grembang, Kelurahan Golumantung, Kecamatan Kebomas Gresik, meminta kejelasan dari pihak perusahaan terkait kerusakan parah pada rumah mereka.
Kerusakan berupa longsor dan retakan masif ini diduga kuat diakibatkan oleh aktivitas pengerukan tanah di area pabrik yang berbatasan langsung dengan tanah milik mereka.
Mohammad Akhirul Romadhoni, putra dari Rianto, menceritakan bahwa tanah tempat berdirinya rumah tersebut merupakan tanah warisan keluarga yang sudah dimiliki sejak sebelum tahun 1995.
"Dulu waktu kecil, tanah ini masih berupa tegalan dan ditanami jagung, kacang, pisang, dan lain sebagainya. Kemudian dibeli orang China dan diolah jadi area industri, di samping rumah," kata Doni, Senin (3/11).
Menurut Doni, perubahan kondisi tanah mulai terasa sejak tahun 2002, ketika ada aktivitas pengerukan tanah gunung oleh pihak perusahaan sebelumnya. Sejak saat itu, rumahnya yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi pengerukan mulai mengalami longsor.
"Longsor pertama tahun 2002, lalu disusul lagi tahun 2012. Bagian dapur roboh, terpaksa saya bangun ulang sekitar tahun 2014-2015," ujarnya.
Kondisi semakin memburuk sejak tahun 2022, ketika area sekitar mulai dikelola oleh PT Berlian. Aktivitas alat berat dan pengerukan tanah yang intens membuat tanah milik Rianto seluas kurang lebih 400 meter persegi ambles hampir separuhnya.
"Rumah utama dengan ukuran 5x11 meter dalam kondisi retak dan dapur sekitar 7x7,5 meter kondisinya kurang layak. Sedangkan untuk tanahnya tinggal separuh, karena tanah terus turun," imbuhnya.
Doni mengaku sudah beberapa kali mencoba meminta kejelasan dan pertanggungjawaban kepada pihak perusahaan terkait janji perbaikan rumahnya yang terdampak.
"Katanya mau dibangun bulan Juli 2025, tapi sampai sekarang belum juga ada realisasi. Dengan alasan membangun pabrik lagi Sekarkurung dan berjanji lagi untuk mendatangkan ahli riset. Namun sampai hampir empat tahun tidak ada kejelasan," tegasnya.
Tanpa adanya kejelasan, Doni mengungkapkan kekhawatiran besar menjelang musim hujan. Kondisi rumah yang retak dan dapur yang hanya dibangun seadanya serta ditutupi seng membuatnya khawatir akan terjadi longsor susulan.
"Sudah musim hujan, takutnya longsor lagi. Kami cuma minta kejelasan dan tanggung jawab dari pihak pabrik," ucapnya.
Salah seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya juga membenarkan jarak pembatas antara rumah Doni dengan area perusahaan yang sangat dekat, hanya sekitar 10 hingga 15 meter.
"Kami berharap dari pihak perusahaan segera memenuhi janji perbaikan yang sudah disampaikan sejak 2022 itu," pungkasnya. (jar/han)
Editor : Hany Akasah