RADAR GRESIK – Ada pemandangan yang menyentuh hati dalam prosesi pisah sambut Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Jawa Timur Wilayah Gresik, Jumat (2/1).
Di tengah suasana formal kedinasan, hadir dua remaja berseragam taruna yang berdiri tegap menyambut kedatangan pemimpin baru pendidikan di Gresik tersebut
Mereka adalah Akmal Wafi dan Muhammad Argya Imhil Muhaijid, siswa SMAN 5 Taruna Brawijaya Kediri asal Gresik. Didampingi orang tua masing-masing, kehadiran mereka bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk penghormatan dan rasa terima kasih yang mendalam kepada mantan kepala sekolah mereka, Eko Agus Suwandi, S.Pd., M.M., yang kini resmi bertugas di tanah kelahiran mereka.
Bagi Akmal dan Argya, Eko Agus Suwandi bukan sekadar pejabat administratif, melainkan sosok bapak yang sukses membawa transformasi besar pada sekolah mereka di Kediri periode 2019–2025.
Kehadiran siswa-siswi ini menjadi bukti nyata bahwa kepemimpinan Eko selama ini dibangun di atas fondasi kedekatan emosional dan prestasi.
Pria kelahiran Pati, 14 Agustus 1973 ini datang ke Gresik dengan rekam jejak mentereng sebagai Kepala Sekolah Berprestasi Tingkat Nasional.
Namun, di balik segudang penghargaannya, Eko tetaplah sosok pembelajar yang kini tengah merampungkan studi S3 di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.
Memulai hari pertamanya menggantikan pejabat sebelumnya, Kiswanto, Eko menunjukkan sisi humanisnya dalam merumuskan kebijakan. Ia ingin meruntuhkan sekat antara birokrasi pendidikan dan masyarakat. Salah satu program prioritasnya adalah meluncurkan aplikasi aduan online.
"Kedepan, kami akan membuat aplikasi aduan online. Ini bertujuan agar masyarakat memiliki wadah resmi untuk menyampaikan keluhan atau masukan. Kami ingin mendengar langsung apa yang dirasakan masyarakat terhadap sekolah-sekolah kita," ujar Eko dengan nada hangat namun tegas.
Ia percaya bahwa transparansi adalah kunci utama dalam membangun kepercayaan publik. Selain itu, penguatan tim internal dan kenyamanan lingkungan kerja menjadi langkah awal yang akan ia sentuh.
"Kami akan memaksimalkan lingkungan tempat kerja, termasuk pemanfaatan lahan kantor yang ada agar pelayanan menjadi lebih maksimal," tambahnya.
Sebagai mantan guru sosiologi, Eko Agus Suwandi memahami betul bahwa pendidikan bukan hanya soal angka, melainkan soal interaksi dan layanan yang memanusiakan. Transisi kepemimpinan ini membawa harapan besar bagi sekolah-sekolah menengah di bawah naungan Cabdin Gresik.
Kehadiran siswa-siswanya di hari pertama kerja seolah menjadi pesan tak tertulis: bahwa Gresik kini dipimpin oleh sosok yang mencintai dunianya dan dicintai oleh anak didiknya.
Dengan integritas dan inovasi digital yang diusungnya, dunia pendidikan Gresik bersiap menyambut era baru yang lebih transparan dan berprestasi. (rir/han)
Editor : Hany Akasah