RADAR GRESIK – Suasana berbeda tampak pada prosesi pembagian rapor semester ganjil tahun ajaran 2025-2026 di Kabupaten Gresik. Jika biasanya ruang kelas didominasi oleh kehadiran ibu, kali ini para ayah terlihat berbondong-bondong datang ke sekolah untuk memantau langsung hasil belajar buah hati mereka, seperti yang terlihat di UPT SMP Negeri 1 Gresik.
Banyak di antara para ayah ini yang masih mengenakan seragam kerja lengkap, menunjukkan antusiasme tinggi untuk menyempatkan waktu di sela kesibukan profesional mereka. Fenomena ini merupakan wujud nyata dari Gerakan Ayah Mengambil Rapor yang mulai digalakkan di seluruh wilayah Kabupaten Gresik.
Kepala SMP Negeri 1 Gresik, Beri Avita Prasetiya, mengungkapkan rasa syukurnya atas perubahan tren ini. Menurutnya, keterlibatan ayah dalam pendidikan bukan sekadar urusan administratif, melainkan investasi emosional yang berdampak besar pada mental siswa.
“Alhamdulillah hari ini kebanyakan yang mengambil rapor adalah ayah, sekitar 80 persen. Ini sesuai dengan edaran dari dinas terkait sebagai turunan dari kementerian. Kami sedang menggalakkan peran ayah dalam pendidikan anak karena perhatian dan kehadiran mereka diyakini mampu meningkatkan rasa percaya diri serta motivasi belajar siswa,” kata Beri Avita Prasetiya.
Beri menambahkan bahwa kehadiran ayah membuktikan bahwa tugas orang tua laki-laki tidak hanya sebatas mencari nafkah, tetapi juga mendampingi setiap fase perkembangan anak.
Agar proses evaluasi berjalan efektif, pihak sekolah melibatkan orang tua dan siswa secara bersamaan dalam diskusi dengan wali kelas. Melalui komunikasi tiga pilar antara guru, orang tua, dan murid ini, diharapkan progres belajar anak ke depan bisa semakin meningkat.
Gerakan ini merupakan respons atas kebijakan nasional yang menyoroti tingginya angka fatherless atau minimnya peran ayah di Indonesia.
Kepala Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBPPPA) Kabupaten Gresik, dr. Titik Ernawati, menjelaskan bahwa keterlibatan ayah adalah langkah strategis dalam memperkuat ketahanan keluarga.
"Keterlibatan ayah di lingkungan pendidikan menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat ketahanan keluarga. Kehadiran ayah saat mengambil rapor bukan sekadar simbol, tetapi bentuk nyata perhatian dan tanggung jawab terhadap pendidikan anak," jelas dr. Titik Ernawati.
Respons positif juga datang dari para orang tua murid yang merasakan manfaat langsung dari gerakan ini. Salah satunya adalah Hadi, wali murid dari Anindita Prameswari, siswa kelas VIII UPT SMPN 1 Gresik. Ia mengaku sengaja meminta izin dari tempat kerjanya demi bisa bertatap muka langsung dengan guru kelas anaknya.
“Dengan ambil rapor sendiri, saya jadi tahu langsung kondisi anak di sekolah dan bisa berdiskusi dengan wali kelas. Saya sempatkan waktu dan izin kerja satu jam biar bisa semakin dekat dengan anak,” ungkap Hadi dengan bangga.
Melalui gerakan yang masif ini, Kabupaten Gresik berharap dapat mencetak generasi yang lebih tangguh secara mental berkat kehadiran sosok ayah yang aktif dalam dunia pendidikan. (jar/han)
Editor : Hany Akasah