RADAR GRESIK - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik terus menunjukkan komitmennya dalam bidang pendidikan melalui inovasi program "Jaketku" (Kejar Paket Tuntaskan Putus Sekolah). Program ini didukung penuh oleh Bupati, Wakil Bupati Gresik, Tim Penggerak PKK, dan Dinas Pendidikan Gresik dengan misi utama mengentaskan angka anak putus sekolah di wilayah tersebut.
Kepala Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Mulya Abadi, Eka Afrila Susanti, menjelaskan bahwa Jaketku diinisiasi untuk mengatasi berbagai faktor penyebab putus sekolah, termasuk masalah ekonomi, masalah pribadi, dan minimnya keinginan untuk melanjutkan pendidikan.
"Dengan program Jaketku ini, di Kabupaten Gresik bisa nol untuk anak putus sekolah," kata Eka saat ditemui di sela-sela pengawasan Ujian Akhir Semester (UAS) di PKBM Mulya Abadi, Jalan Jaksa Agung Suprapto No. 5, Sidokumpul Gresik, Minggu (14/12).
Eka melanjutkan, program Jaketku ini dinilai sangat strategis mengingat banyak perusahaan kini menuntut karyawan memiliki ijazah.
Oleh karena itu, mayoritas siswa-siswi di Jaketku sudah bekerja di berbagai sektor, seperti perusahaan maupun bidang pendidikan, namun belum memiliki ijazah formal.
"Jadi siswa-siswi di sini mayoritas sudah bekerja namun belum punya ijazah. Untuk itu mereka belajar di Jaketku agar bisa mempunyai ijazah," ujarnya.
Program Jaketku reguler dari Bupati Gresik ini bersifat gratis sepenuhnya, mulai dari pendaftaran hingga kelulusan, yang sangat membantu bagi anak-anak kurang mampu.
PKBM Mulya Abadi saat ini menyelenggarakan dua tingkatan, yakni Paket B dan Paket C.
Selain menggratiskan biaya, proses pembelajaran di Jaketku juga telah menerapkan sistem digitalisasi modern. Proses pembelajaran sudah menggunakan Interactive Flat Panel (IFP) yang merupakan bagian dari program Merah Putih Presiden Prabowo Subianto.
"Semua mata pelajaran sudah menggunakan IFP, misalnya matematika dan studi kasus bisa menggunakannya. Jadi semua pembelajaran sudah menggunakan IFP atau program digitalisasi pembelajaran," imbuh Eka.
Ia menambahkan, proses belajar mengajar kejar paket ini hanya dikhususkan pada hari Sabtu dan Minggu, dan diharapkan program Jaketku dapat mencakup semua usia tanpa batasan.
Salah satu siswi Jaketku, Fadhilah (35) dari Kecamatan Kebomas, mengungkapkan rasa syukurnya. Fadhilah yang juga berprofesi sebagai guru TPQ, mengaku sempat terpaksa putus sekolah karena sakit saat menempuh pendidikan di pondok pesantren, sehingga ia tidak memiliki ijazah sekolah formal.
"Dengan adanya Jaketku ini saya bisa bersekolah atau kejar paket untuk bisa mempunyai ijazah," ungkap Fadhilah. (jar/han)
Editor : Hany Akasah