Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Multiliterasi Budaya, dari Ekplorasi Hingga Kreasi yang Menghidupkan Tradisi

Riri Masfardian • Sabtu, 6 Desember 2025 | 03:23 WIB
Oleh: Fitrotis Sa’adah, S.Pd., Guru UPT SD Negeri 38 Gresik,(Mahasiswa S2 Pendidikan Dasar Unesa) dengan bimbingan dosen Dr. Nurul Istiq’faroh, M.Pd., dan Prof Dr. Wahyu Sukartiningsih, M.Pd.
Oleh: Fitrotis Sa’adah, S.Pd., Guru UPT SD Negeri 38 Gresik,(Mahasiswa S2 Pendidikan Dasar Unesa) dengan bimbingan dosen Dr. Nurul Istiq’faroh, M.Pd., dan Prof Dr. Wahyu Sukartiningsih, M.Pd.

RADAR GRESIK - Di era ketika anak-anak lebih akrab dengan layar gawai daripada dengan cerita lokal di sekitarnya, UPT SDN 38 Gresik menghadirkan pendekatan baru yang menggabungkan budaya, teknologi, dan seni dalam satu rangkaian pembelajaran multiliterasi.

Program ini dirancang melalui The 5 Actions Model berbasis Coding, AI, dan Culture oleh Fitrotis Sa’adah, yang menegaskan bahwa budaya dapat dikenalkan dengan cara yang modern, menyenangkan, dan tetap bermakna.

“Saya ingin literasi budaya tidak berhenti sebagai teori di buku. Anak-anak harus merasakannya, melihatnya, mendengarnya, dan mengekspresikannya,” ungkap Fitrotis.

Model pembelajaran ini juga berhasil meraih Juara 1 Ajang Apresiasi Cipta Inovasi Media Pembelajaran Tingkat Nasional Tahun 2025 yang diselengarakan oleh Komunitas Media Pembelajaran Pusat. (Sabtu, 29/11/2025)

Jelajah Warisan Budaya Gresik : Eksplorasi Budaya hingga Kreasi Karya

Pembelajaran dimulai melalui kegiatan Jelajah Eksplorasi Budaya Gresik, bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Gresik serta Komunitas Gresik Heritage. Murid keluar dari ruang kelas dan melihat langsung sumber budaya yang selama ini hanya mereka dengar sekilas Pudak Gallery, Bandar Grisse, Klenteng Kim Hin Kiong, Kantor Pos Tua, hingga museum replika bangunan bersejarah.

Dengan dipandu narasumber budaya, murid belajar melalui berbagai bentuk literasi: mendengar cerita sejarah (literasi auditori), mengamati artefak dan foto lama (literasi visual), memindai QR Code untuk membuka arsip digital (literasi digital), hingga berdialog untuk membangun pemahaman (literasi sosial).

Pengalaman langsung ini membuat budaya tidak lagi jauh, tetapi hadir dekat dalam ingatan dan rasa ingin tahu mereka. Fitrotis menegaskan kembali, “Budaya hanya akan hidup jika disentuh langsung oleh generasi muda. Anak-anak harus merasa bahwa budaya itu bagian dari dirinya.”

Tahap kedua, Treasure Hunt Budaya, membawa suasana belajar menjadi lebih aktif dan penuh energi. Menggunakan peta jelajah, murid bergerak dari satu POS ke POS lain untuk menemukan informasi tentang Tradisi Gresik.

Setiap POS berisi media berbeda video, infografis, teks naratif, hingga misi kelompok.

Murid membaca, memecahkan petunjuk, menonton dokumentasi, dan mencatat temuan penting. Kegiatan ini membuktikan bahwa multiliterasi tumbuh kuat ketika murid diberi ruang untuk bergerak dan memecahkan masalah.

Baca Juga: Akses Menuju Surabaya Makin Lancar, DPRD Apresiasi Pelebaran Jalan Menganti - Lakarsantri

Guru mencatat bahwa lebih dari 90% murid sangat aktif selama aktivitas berlangsung. Di sinilah budaya menjadi “ditemukan”, bukan sekadar diberikan. Murid mengalami proses pencarian makna melalui interaksi dengan teks visual, digital, lisan, dan simbolik.

Sesudah menjelajah dan mengumpulkan makna budaya, murid diarahkan untuk menuangkan pemahaman mereka dalam bentuk karya Damar Kurung lampion naratif khas Gresik. Setiap kelompok merancang empat panel cerita.

Kelas berubah menjadi ruang studio. Murid menggambar, memilih warna, menyusun simbol, serta menulis narasi berdasarkan temuan mereka. Inilah perpaduan antara literasi visual, naratif, simbolik, sosial, dan karakter yang menjadikan multiliterasi hadir secara menyeluruh.

Melihat tingginya keterlibatan murid, Fitrotis menyampaikan bahwa, “Ketika anak-anak membuat Damar Kurung, mereka tidak hanya menggambar. Mereka sedang merawat identitasnya sendiri sebagai anak Gresik.” Puncak pembelajaran ditutup dengan gelaran pameran mini.

Seluruh Damar Kurung dipajang, dan murid menjelaskan proses serta makna tradisi yang mereka pelajari di depan guru, teman, dan orang tua. Momen ini menjadi ruang bagi tumbuhnya kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, dan apresiasi budaya. Banyak orang tua menyampaikan bahwa anak-anak kini lebih mengenal tradisi lokal dan bangga menceritakannya kembali kepada keluarga di rumah.

Generasi Digital yang Tetap Berakar

Program multiliterasi budaya UPT SDN 38 Gresik menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat hadir secara modern, kontekstual, dan menggembirakan.

Teknologi dan tradisi tidak harus berlawanan keduanya dapat saling menguatkan. Melalui rangkaian eksplorasi, permainan edukatif, hingga kreasi seni, murid mengalami transformasi: dari sekadar mengetahui budaya menjadi memahami, memaknai, hingga mencintainya.

Seperti disampaikan Fitrotis, “Modernisasi boleh maju, tetapi identitas harus tetap berpijak.”

Pesan ini nyata terlihat pada wajah-wajah murid yang kini lebih bangga dengan budaya kotanya. Sebagaimana testimoni dari Ibu Eny Pudjiati, Kepala UPT SDN 38 Gresik “Program multiliterasi budaya ini sangat berdampak.

Siswa memahami budaya bukan hanya sebagai materi, tetapi sebagai identitas. Kami bangga dan mendukung penuh inovasi ini.” Testimoni lain juga disampaikan Nadya Dita, salah satu murid kelas VI : “Saya sekarang lebih bangga jadi orang Gresik. Tradisi kita banyak yang bagus. Saya ingin belajar budaya Gresik lainnya.” (*/han) 

 

 

 

 

Editor : Hany Akasah
#gresik #Guru #pendidikan #Budaya #Unesa