RADAR GRESIK– Mahasiswa KKN Universitas Gresik Kelompok 14 hadir dengan gebrakan hijau di Desa Semampir, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik. Melalui serangkaian inovasi ramah lingkungan, mereka berhasil menyulap limbah rumah tangga dan bahan alami yang sering diabaikan menjadi produk berguna dan bernilai ekonomis.
KKN Kelompok 14 Universitas Gresik terdiri dari 13 mahasiswa yang diketuai oleh Didik Supriyohadi, dengan Rizqi Dimas Al-Faiz sebagai Wakil Ketua.
Anggota lainnya antara lain Yuliana Ambu Kaka, Windy Tegar Ika, Nur Nafi’a, Bambang Masudi, Maudiyah, Andhika Gilang Ramadhan, Mas Rafli Lutfan Kan, Fanny Hafidzin, Iis Suryaningsih, Astri Riantari, dan Achmad Haqqul Yaqin.
Seluruh kegiatan ini dibimbing oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dini Ayu Pramitasari, S.Ak., M.Ak., yang turut aktif memberikan arahan strategis dan pendampingan penuh selama pelaksanaan program.
“Program ini tidak hanya menjadi ajang edukasi, tetapi juga mendorong transformasi pola pikir warga tentang pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga, kemandirian pangan lokal, dan pemberdayaan ekonomi berbasis lingkungan,” jelasnya.
Program pengabdian masyarakat yang berlangsung mulai 14 Juli hingga 8 Agustus 2025 ini difokuskan di Dusun Semampir dan Dusun Jambu. Kegiatan yang menyasar kelompok ibu-ibu rumah tangga tersebut tidak hanya mengedepankan penyuluhan, tetapi juga pelatihan langsung untuk memastikan peserta mampu menerapkan keterampilan secara mandiri. Tiga Inovasi Unggulan yakni mulai limbah jadi solusi.
Kegiatan pertama dilaksanakan pada Sabtu, 2 Agustus 2025, di Lapangan Dusun Jambu. Para ibu rumah tangga diajak mengolah sisa dapur seperti kulit buah dan sayuran menjadi pupuk cair organik yang bermanfaat untuk tanaman.
Proses yang sederhana namun bernilai tinggi ini mendapat sambutanantusias dari peserta. Keesokan harinya, Minggu, 3 Agustus 2025, mahasiswa KKN memperkenalkan inovasi baru berupa pembuatan susu sehat berbasis nabati dari biji labu.
Selain kaya gizi, susu ini juga menjadi alternatif yang ramah lingkungan dan potensial secara ekonomi, terutama bagi masyarakat yang mulai beralih ke pola hidup sehat.
Inovasi ketiga, yang berlangsung Selasa, 5 Agustus 2025 di Balai Desa Semampir, menghadirkan pelatihan pembuatan lilin aromaterapi berbahan dasar minyak jelantah. Para peserta diajak memahami dampak negatif membuang minyak bekas sembarangan dan cara mengolahnya menjadi lilin wangi yang aman, menarik, dan bisa dijual kembali.
“Kami ingin kegiatan ini tidak berhenti di pelatihan saja, tapi menjadi kebiasaan berkelanjutan. Dengan semangat kolaboratif antara mahasiswa dan masyarakat, inovasi ini diharapkan menjadi titik awal terciptanya gaya hidup berkelanjutan di Desa Semampir. Langkah kecil yang berpotensi memberi dampak besar bagi lingkungan dan kesejahteraan lokal,” ujar Didik Supriyohadi, mahasiswa KKN Kelompok 14. (jar/han)
Editor : Hany Akasah