Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Sosok Faqih Usman Bagi Warga Muhammadiyah Gresik hingga Bakal Dijadikan Nama Gedung Baru UMG

Novia Andriyani • Senin, 9 September 2024 | 20:55 WIB

 

FASILITAS TERBAIK : Gedung Faqih Usman yang merupakan  Gedung baru milik UMG yang nantinya akan dibangun dengan ketinggian 8 lantai.
FASILITAS TERBAIK : Gedung Faqih Usman yang merupakan Gedung baru milik UMG yang nantinya akan dibangun dengan ketinggian 8 lantai.

RADAR GRESIK– Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) menggelar acara sidang senat terbuka Wisuda ke-45 di Ballroom Hotel Aston Gresik, Sabtu (07/09).

Istimewanya,  kegiatan itu dihadiri Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr.dr. Sukadiono MM, wakil ketua Majelisdiktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. H. Achmad Jainuri,M.A.Ph.D, Ketua Pimpinan Daerah  beserta Ranting Muhammadiyah dan Aisyiyah, jajaran forkopimda Kabupaten Gresik dan Ketua Badan Pembina Harian (BPH) bersama seluruh civitas akademika UMG.

Prof Prof. Dr. H. Haedar Nashir bersama jajaran melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan gedung Faqih Usman dengan luas tanah 6.080 m² yang akan dibangun delapan lantai di sebelah timur gedung utama UMG.

Dalam sambutannya, Rektor UMG Nadhirotul Laily, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog mengatakan,  , nama gedungnya yakni Faqih Usman. Menurutnya, Faqih Usman merupakan tokoh pimpinan pusat Muhammadiyah yang lahir di Gresik dan keteladanannya menjadi inspirasi bagi seluruh civitas akademika UMG.

"Gedung Faqih Usman, nantinya akan dilengkapi beberapa fasilitas seperti ruang auditorium yang mampu menampung lebih dari 1.300 orang, laboratorium, ruang kelas serta fasilitas penunjang lainnya yang akan dibangun dalam waktu satu tahun," kata Rektor UMG yang juga menjadi ketua Senat.

Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir berharap Muhammadiyah menjadi yang terunggul dan  berkemajuan di berbagai bidang, selain terus menanamkan nilai agama yang mencerahkan, mencerdaskan, dan memajukan serta menunjukkan bukti nyata bisa membangun peradaban dalam berbagai aspek kehidupan.

"Al-umur Ad-duniawiyah diberbagai bidang kehidupan dan kita harus siap disitu tentu dengan cara yang baik dan tidak fasad (merusak) itulah islam berkemajuan, semoga Allah merahmati dan dimudahkan pembangunannya," kata Prof Haedar Nashir.

Nama  Faqih Usman memang sering dipakai dan disebutkan oleh warga Muhammadiyah. Faqih Usman sebenarnya lahir di Gresik, Jawa Timur tanggal 2 Maret 1904. Ia berasal dari keluarga santri sederhana dan taat beribadah. Faqih Usman merupakan anak keempat dalam keluarga yanga gemar akan ilmu pengetahuan, baik pengetahuan agama maupun pengetahuan umum.

Masa kecilnya dilalui dengan belajar membaca Alquran dan ilmu pengetahuan umum dari ayahnya sendiri. Usia remaja ia belajar di pondok pesantren di Gresik tahun 1914-1918. Kemudian, antara tahun 1918-1924 dia menimba ilmu pengetahuan di pondok pesantren di luar daerah Gresik.

Faqih Usman banyak mengua­sai buku-buku yang diajarkan di pesantren-pesantren tradisional, karena penguasaannya dalam bahasa Arab. Dia juga terbiasa membaca surat kabar dan majalah berbahasa Arab, terutama dari Mesir yang berisi tentang pergerakan kemer­dekaan. 

Apalagi, pada penghujung abad 19 dan awal abad 20 itu di dunia Islam pada umumnya sedang terjadi gerakan kebangkitan.

Faqih Usman dikenal memiliki etos enter­preneurship yang kuat. Kegiatan bisnis yang dilakukannya cukup besar dengan mendirikan beberapa perusahaan yang bergerak dalam bidang penyediaan alat-alat bangunan, galangan kapal, dan pabrik tenun di Gresik. Bahkan, dia juga diangkat sebagai Ketua Persekutuan Dagang Sekawan Se-Daerah Gresik.

Keterlibatannya dalam Muhammadiyah dimulai pada tahun 1925, ketika ia diangkat sebagai Ketua Group Muhammadiyah Gresik, yang dalam perkembangan selanjutnya menjadi salah satu Cabang Muhammadiyah di Wilayah Jawa Timur.

Selanjutnya, karena kepiawaiannya sebagai ulama-cendekiawan, Usman Faqih diangkat sebagai Ketua Majelis Tarjih Muhammadiyah Jawa Timur periode 1932-1936 yang berkedudukan di Surabaya.

Ketika Mas Mansur dikukuhkan sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah, Faqih Usman menggantikan kedudukan Mas Mansur sebagai Konsul Muhammadiyah Jawa Timur pada tahun 1936. Pada tahun 1953, untuk pertama kalinya dia diangkat dan duduk dalam susunan kepengurusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan seterusnya selalu terpilih sebagai salah seorang staf Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Menjelang meninggalnya, Faqih Usman dikukuhkan sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Muktamar Muhammadiyah ke-37 tahun 1968 di Yogyakarta untuk periode 1968-1971.

Faqih Usman banyak terlibat aktif di berbagai gerakan Islam yang sangat membantu pengem­bangan Muhammadiyah. Dia pernah memimpin majalah Bintang Islam sebagai media cetak Muhammadiyah Jawa Timur.

Kegiatannya dalam Muhammadiyah memperluas jaringan pergaulan­nya, sehingga iapun terlibat aktif di berbagai organisasi masyarakat, seperti Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) pada tahun 1937.

Faqih Usman banyak terlibat dalam aktivitas politik di negeri ini. Dia pernah dipercaya Pemerintah RI untuk memimpin Departemen Agama pada masa Kabinet Halim Perdanakusumah sejak 21 Januari 1950 sampai 6 September 1950. Pada tahun 1951 ia ditunjuk sebagai Kepala Jawatan Agama Pusat.

Situasi politik di tanah air yang tidak stabil saat itu menyebabkan susunan kabinet pun jatuh bangun. Ia dipercaya kembali sebagai Menteri Agama pada masa Kabinet Wilopo sejak 3 April l952 sampai 1 Agustus 1953.

Selepas dari jabatan Menteri Agama RI, ia masih tetap duduk sebagai anggota aktif Konstituate, di samping jabatannya sebagai pegawai tinggi yang diperbantukan pada Departeman Agama sejak tahun l954.

Sebagai salah seorang tokoh Masyumi, dia juga terlibat aktif dalam resolusi konflik politik dalam negeri. Hal itu terlihat menjelang meletusnya gerakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Utara.

Bersama dengan Mohammad Roem, dia berusaha menjadi mediator untuk mendamaikan konflik antara PRRI dengan pemerintah pusat saat itu. Ia berusaha menemui rekan-rekannya di Masyumi yang terlibat dalam kegiatan PRRI tersebut, seperti Muhammad Natsir, Boerhanuddin Harahap, dan Sjafruddin Prawiranegara untuk mendialogkan persoalan yang semakin menajam menjadi perang saudara tersebut.

Upaya ini tidak membawa hasil yang memuaskan, bahkan bisa dianggap gagal. Dalam keputusasaan tersebut, akhirnya Fakih Usman kembali ke Muhammadiyah yang menjadi basis aktivitas kemasyarakatannya.

Sebagai salah seorang Wakil Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada kepengurusan KHA. Badawi yang pertama (1962-1965), KH Fakih Usman merumuskan sebuah konsep pemikiran yang kemudian dikenal dengan Kepribadian Muham­madiyah.

Rumusan pemikirannya ini diajukan dalam Muktamar Muhammadiyah ke-35 tahun 1962 di Jakarta, yang akhirnya diterima sebagai pedoman bagi warga Muhammadiyah. (han)

Editor : Hany Akasah
#Muhammadiyah #Sosok #Organisasi #menteri agama #gresik #Faqih Usman #umg