Dikarenakan hasil produksi yang melimpah, Kapasitas produksi untuk setiap rumah sekitar 5-10 kg/hari dengan nilai investasi harga jual paling rendah Rp. 12.000/kg dan paling tinggi Rp. 20.000/kg serta teknik pemasaran produk sesuai dengan permintaan dari tengkulak dan belum ada pengembangan produk serta pemasaran. Harga jual dapat ditentukan dari persediaan bahan baku nira.
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan mahasiswa anggota PPK HIMATRIAN UISI kepada petani pengolah nira menjadi gula semut dan gula cair yakni Anshari yang juga selaku Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) menyebutkan bahwa mereka masih terkendala untuk proses pemasaran yang belum stabil.
"Petani gula aren nira fokus membuat gula merah cetak bambu yang dijual di pasar melalui pengumpul gula aren atau Kelompok Tani Hutan (KTH) Mustika Aren dengan harga yang relatif murah." Ujar Anshari
Pembuatan produk olahan gula aren dalam berbagai bentuk memiliki potensi untuk dijadikan wadah berwirausaha bagi para petani gula aren dengan mempertimbangkan proses pemasaran yang dapat mereka lakukan sendiri di sekitar Desa Balikterus, Kecamatan sangkapura, Pulau Bawean.
Sehingga gula aren yang telah mereka produksi dapat dikonversi menjadi suatu produk yang bernilai lebih tinggi. Berdasarkan analisis situasi yang telah dilakukan, maka dapat dirumuskan permasalahan mitra yaitu :
(1) Para petani gula aren belum mengetahui dan memahami cara pengolahan gula aren menjadi produk olahan lain
(2) Kurangnya pembekalan dalam pengembangan produk gula aren
(3) Para petani gula aren terkendala dalam memulai berwirausaha
(4) Masyarakat belum mendapatkan pembekalan mengenai cara pengemasan dan penyajian produk sehingga dapat menarik konsumen.
Baca juga : Tim UISI Bantu Tingkatkan Produktivitas Jasa Layanan Logistik
Dari permasalahan yang tengah terjadi pada mitra produksi gula aren, mahasiswa Tim PPK HIMATRIAN UISI menawarkan solusi konkrit untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh pihak Kelompok Tani Hutan (KTH) Mustika Aren adalah dengan :
(1) Melakukan sosialisasi potensi pengolahan gula aren menjadi produk olahan siap saji
(2) Melakukan sosialisasi tata cara pembentukan serta pengurusan Kelompok Usaha Bersama serta perijinan yang diperlukan
(3) Melakukan pelatihan pembuatan olahan gula aren
(4) Melakukan pelatihan cara pengemasan produk dan pemasaran produk.
Metode yang dapat diterapkan pada pelaksanaan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Mahasiswa (PPK ORMAWA) HIMATRIAN UISI adalah dengan sosialisasi dan pemberian pelatihan kepada Kelompok Tani Hutan (KTH) Mustika aren selaku Mitra yang mempertimbangkan bahwa sebagai Kelompok Tani Hutan yang memanfaatkan waktunya secara optimal akan dibekali keterampilan dalam industri gula aren sesuai dengan kebutuhan dalam bentuk pelatihan berupa teori dan pendampingan pembuatan produk gula aren menjadi makanan/minuman siap saji.
Baca juga : UISI dan PKK Gresik Gelar Pelatihan Pengemasan dan Digitalisasi UMKM
Gabriel selaku Dosen pembimbing mengungkapkan bahwa adapun tahapan yang dilakukan dalam pengabdian tersebut terdiri dari dua tahap yaitu tahap pelatihan dan tahap Evaluasi.
"Tim pelaksana PPK ORMAWA HIMATRIAN UISI bertindak sebagai pengarah dalam melakukan kegiatan yang dibuat bersama dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) sebagai mitra, pelatihan yang diberikan berupa cara pembuatan aneka inovasi bentuk gula aren dan teknik pengemasan produk gula aren dan pada tahap evaluasi di akhir program pelatihan, peserta kelompok tani hutan diharapkan sudah dapat membuat produk sendiri dan menjalankan usaha dari hasil pelatihan sesuai yang telah disepakati dan tentunyanya Pada akhir program dilakukan penilaian rasa dan penampilan kepada mitra dengan mengisi lembar kuisioner." Pungkas Gabriel. (Nov/Han) Editor : Hany Akasah