Chanting Aremu sendiri merupakan wadah suporter, dimana dapat meningkatkan ukhuwah persaudaraan para siswa dengan menanamkan semangat heroik. Dengan mengusung tema besar witing tresno jalaran soko kulino yang berarti cinta datang berawal dari kebiasaan, siswa didik baru diajak mencintai sekolahan agar bisa belajar dengan tekun.
Pembina IPM SMA Muhammadiyah Satu Gresik Wiwit Dwi Wahyu menyampaikan, kegiatan FORTASI tahun ini digelar secara tatap muka. Dimana seluruh konsep maupun pelaksanaannya diselenggarakan oleh siswa dengan bimbingan para guru.
“Pada hari pertama kemarin kita tekankan pendidikan mengenai kemuhammadiyahan, disertai penyuluhan mengenai kenakalan remaja oleh BNN. Dilanjutkan materi Bimbingan Konseling (BK) untuk mengekplore setiap keunggulan siswa yang disebut temukan keuinikan,” terangnya.
Sementara itu, Kepala SMA Muhammadiyah Satu Gresik Ainul Muttaqin mengungkapkan, FORTASI saat ini sudah bertransformasi menjadi bimbingan adaptasi, melalui Fortasi kakak kelas akan membimbing adik-adiknya agar cepat beradaptasi dengan lingkungan SMAMSATU. Menurutnya Keimanan, khebinekaan global, bernalar kritis, ketakwaan, gotong royong,dan kemandirian menjadi hal yang ditekankan kepada para siswa.
“Dalam Fortasi tahun ini kita tekankan leadhersip, tanggung jawab, kemandirian dan kekompakan. Anak-anak merupakan bagian dari pendidikan, semoga mereka segera menemukan potensi dan keunikan mereka agar bisa meraih cita-cita dan menjadi anak yang shaleh serta shaleha,” pungkas Ainul.
Project Damar Kurung,SMAMSATU mengajak siswa didik baru untuk lebih mengenal budaya yang ada di Kabupaten Gresik. Mengingat bangunan gedung SMA Muhammadiyah Satu Gresik sendiri memiliki bentuk damar kurung.
“Saya mengapresiasi masyarakat yang mempercayai SMAMSATU sebagai sekolah anak anaknya. Harapannya secara kelembagaan kami akan terus berikhtiar dan berusaha membimbing anak-anak agar mampu mengembangkan potensinya,” imbuhnya.
Dalam pelaksanaan proyek damar kurung sendiri, para siswa bergantian melukis damar kurung diatas kanvas seluas 8 x 1,5 meter. Mereka antusiasme dengan kegiatan tersebut. Seperti yang diungkapkan salah satu siswa Dhea Chesya Firstyanda (16), dirinya mengaku pertama kali melukis damar kurung.
“Sebagai warga gresik saya sudah lama mengenal damar kurung, Namun baru pertam akali ini ikut melukisnya secara langsung. Dari sini saya lebih tidak hanya melukis, namun juga memahami filosofi yang terkandung dalam lukisan damar kurung,” kata Dhea.(*/han) Editor : Hany Akasah