RADAR GRESIK – Puluhan kuntum bunga mawar nampak cantik saat dibagikan kepada para ibu di kawasan Klenteng Kim Hin Kiong, Kelurahan Pulopancikan, Gresik. Uniknya, bunga-bunga mawar tersebut bukan bunga asli, melainkan hasil kreativitas pengolahan limbah minyak goreng bekas atau jelantah.
Aksi simpatik ini diinisiasi oleh Asosiasi Bank Sampah Gresik (ASBAG) sebagai bentuk apresiasi setinggi-tingginya bagi kaum perempuan, sekaligus memperingati momentum Hari Ibu.
Ketua ASBAG, Siti Fitria, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan ajang silaturahmi ke-5 sekaligus pengingat akan peran vital seorang ibu. Menurutnya, ibu adalah sosok sentral yang memiliki kemampuan luar biasa dalam mengubah limbah menjadi sesuatu yang bernilai estetika dan ekonomi.
"Hari Ibu adalah perayaan peran besar perempuan bagi keluarga dan lingkungan. Kami ingin mengajak ibu-ibu terus kreatif mengolah limbah agar lingkungan tetap bersih dan menghasilkan nilai ekonomi bagi keluarga," tutur Fitria.
Tak hanya membagikan mawar jelantah, Fitria juga memperkenalkan dua buku karya pribadinya yang berjudul “Wanita Penjaga Bumi” dan “Bertumbuh Bersama Luka”.
Kedua buku tersebut memotret perjuangan nyata para ibu yang menjadi penggerak bank sampah. Mereka digambarkan sebagai garda terdepan dalam pelestarian lingkungan di Kabupaten Gresik.
Melalui literasi ini, ASBAG ingin menunjukkan bahwa perjuangan menjaga bumi seringkali dimulai dari ketangguhan hati seorang perempuan.
Pemilihan lokasi di Klenteng Kim Hin Kiong bukan tanpa alasan. ASBAG ingin membawa pesan keberagaman dan inklusivitas. Semangat menjaga kelestarian bumi dinilai melampaui segala perbedaan latar belakang suku, agama, maupun budaya.
“Tidak ada yang benar-benar sampah, semua hanya menunggu kepedulian kita. Ibu dan rumah tangga adalah solusi utama permasalahan sampah, khususnya di Kabupaten Gresik,” tegas Fitria.
Melalui aksi ini, diharapkan kesadaran masyarakat untuk memilah dan mengolah sampah dari lingkup terkecil, yakni rumah tangga, dapat terus meningkat demi masa depan lingkungan yang lebih hijau. (jar/han)
Editor : Hany Akasah