RADAR GRESIK – Indonesia, sebagai negara maritim terbesar di dunia, kembali memperingati Hari Maritim Nasional setiap tanggal 23 September.
Peringatan yang telah memasuki tahun ke-61 pada 2025 ini, menjadi momentum penting untuk menilik kembali jati diri bangsa yang kekayaan dan masa depannya sangat bergantung pada laut.
Dengan luas perairan mencapai 6,4 juta km², atau sekitar 70% dari total wilayahnya, laut adalah urat nadi kehidupan, kedaulatan, dan kunci masa depan bangsa.
Hari Maritim Nasional bukan sekadar ritual tahunan, melainkan seruan untuk kembali merangkul lautan yang telah menjadi saksi bisu kejayaan nenek moyang kita.
Sejarah Hari Maritim Nasional berakar dari sejumlah peristiwa penting yang memperkuat identitas maritim bangsa:
-
Tahun 1953: Presiden Soekarno meresmikan Angkatan Laut dan berpidato tentang pentingnya Indonesia kembali menjadi bangsa pelaut sejati.
-
13 Desember 1957: Perdana Menteri Djuanda Kartawidjaja memprakarsai Deklarasi Djuanda. Deklarasi ini menegaskan bahwa seluruh perairan di sekitar, di antara, dan di dalam kepulauan Indonesia adalah satu kesatuan wilayah kedaulatan NKRI.
-
23 September 1963: Diselenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) Maritim I di Jakarta sebagai peneguhan jati diri bangsa. Dari Munas inilah, tanggal 23 September secara resmi ditetapkan sebagai Hari Maritim Nasional melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 249 Tahun 1964.
Pemerintah Indonesia, melalui Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2017, telah menetapkan tujuh pilar poros maritim dunia sebagai pedoman dalam membangun sektor kelautan, meliputi:
-
Pengelolaan sumber daya kelautan dan pengembangan sumber daya manusia.
-
Pertahanan, keamanan, penegakan hukum, dan keselamatan di laut.
-
Tata kelola dan kelembagaan laut.
-
Pengembangan ekonomi, infrastruktur, dan kesejahteraan masyarakat.
-
Pengelolaan ruang dan perlindungan lingkungan laut.
-
Pengembangan budaya bahari.
-
Diplomasi maritim.
Sebagai salah satu daerah pesisir, Gresik memiliki peran strategis dalam mewujudkan visi Indonesia sebagai poros maritim dunia. Masyarakat dan pemerintah Gresik perlu mengambil posisi proaktif, tidak hanya sebagai penikmat hasil laut, tetapi juga sebagai penjaga dan pengembang potensi maritim.
Peringatan Hari Maritim Nasional diharapkan dapat membangkitkan kembali kesadaran masyarakat, terutama di daerah pesisir seperti Gresik, akan peran vital laut dalam sejarah dan masa depan bangsa. Ini adalah momentum untuk menjaga kedaulatan dan kekayaan maritim Indonesia. (ale/han)
Editor : Hany Akasah