Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Transformasi Emas, Dari Perhiasan Jadi Benteng Ekonomi Keluarga Saat Rupiah Kian Tak Berdaya

Hany Akasah • Selasa, 15 April 2025 | 21:50 WIB
Fenomena : Emas jadi pelarian demi amankan aset saat rupiah kian tak berdaya
Fenomena : Emas jadi pelarian demi amankan aset saat rupiah kian tak berdaya

RADAR GRESIK - Di tengah hiruk-pikuk pasar, suasana di toko-toko emas belakangan ini terlihat berbeda. Antrean mengular, transaksi silih berganti, dan wajah-wajah cemas bercampur harap tampak di balik etalase kaca yang berkilau. Semuanya berburu satu hal: emas.

Pelemahan rupiah yang menembus angka Rp17.000 per dolar Amerika Serikat seakan menjadi alarm keras bagi banyak orang. Setiap hari, nilai mata uang terasa makin ringan, sementara harga-harga kebutuhan pokok perlahan menanjak. Dalam ketidakpastian itu, emas kembali menjadi pelabuhan.

Tak hanya investor kawakan atau pemain lama, kini masyarakat umum mulai ramai-ramai memindahkan tabungan mereka ke logam mulia. Ada yang membeli emas batangan puluhan gram, ada pula yang memulai dari seperempat gram, melalui layanan digital atau tabungan emas. Semua punya tujuan yang sama: menyelamatkan nilai uang.

Apalagi, harga emas terus menunjukkan tren kenaikan yang konsisten. Dalam beberapa bulan terakhir, harga emas global dan domestik sama-sama mencatat rekor baru. Di pasar dalam negeri, harga emas batangan kini telah menembus angka Rp1.900.000 per gram, naik signifikan dibanding awal tahun.

Sementara di pasar dunia, analis memproyeksikan harga emas bisa mencapai hingga USD3.500 per troy ounce pada akhir tahun ini, mengikuti pola inflasi dan ketegangan global.

Fenomena ini menjamur di berbagai kota. Dari pusat kota Jakarta hingga pelosok daerah, toko emas nyaris tak pernah sepi.

Pegadaian dan platform jual beli emas digital pun melaporkan lonjakan transaksi dalam beberapa minggu terakhir. Emas, yang dulunya hanya dibeli untuk keperluan pernikahan atau simpanan jangka panjang, kini dipandang sebagai strategi bertahan hidup.

Inflasi, yang menggerogoti daya beli masyarakat, telah membuat banyak orang sadar bahwa menyimpan uang tunai bukan lagi pilihan bijak.

Nilainya menyusut dari hari ke hari, dan mereka pun mencari alternatif yang lebih stabil. Emas menjanjikan ketenangan itu sebuah aset yang nilainya relatif tahan terhadap guncangan ekonomi.

Di tengah kondisi global yang tak menentu, ketegangan geopolitik, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter dunia, emas kembali bersinar. Ia tidak hanya menjadi perhiasan, tetapi juga simbol perlindungan, harapan, dan ketahanan.

Kini, emas tak hanya disimpan dalam lemari besi. Ia menjadi percakapan di meja makan, strategi di grup-grup WhatsApp keluarga, dan keputusan penting dalam pengelolaan rumah tangga.

Dalam dunia yang terus berubah, logam kuning itu kembali menunjukkan nilainya lebih dari sekadar barang mewah, tetapi sebagai pegangan di saat segalanya terasa melayang. (fah/han)

Editor : Hany Akasah
#rupiah #Emas #tabungan #aset #ekonomi