Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Warga Binaan Rutan Gresik Asah Kemandirian Lewat Produksi Songkok Grissee

Yudhi Dwi Anggoro • Minggu, 22 Februari 2026 | 21:09 WIB

TERAMPIL : Warga Binaan Rutan kelas IIB Gresik terlihat terampil sat menyalurkan kreativitasnya melalui pembuatan Songkok Grissee.
TERAMPIL : Warga Binaan Rutan kelas IIB Gresik terlihat terampil sat menyalurkan kreativitasnya melalui pembuatan Songkok Grissee.

RADAR GRESIK – Program pembinaan kemandirian bagi warga binaan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Gresik terus menunjukkan geliat positif.

Meski kegiatan ini telah berlangsung secara rutin, namun antusiasme warga binaan dalam memproduksi "Songkok Grissee" tetap tinggi.

Produk ini kini menjadi salah satu identitas sekaligus karya unggulan yang lahir dari balik jeruji besi melalui proses yang teliti dan penuh dedikasi.

Dalam pantauan kegiatan beberapa waktu lalu, para warga binaan terlihat terampil mengikuti setiap tahapan produksi. Mulai dari pemilihan bahan kain beludru berkualitas, pemotongan pola yang presisi, proses penjahitan, hingga tahap penyelesaian akhir atau finishing. Ketelitian ini menjadi syarat mutlak agar produk yang dihasilkan mampu bersaing di pasar luar.

Kepala Rutan Kelas IIB Gresik, Eko Widiatmoko, menekankan bahwa rutinitas produktif ini telah menjadi bagian penting dalam membentuk karakter kedisiplinan para warga binaan setiap harinya.

"Ketekunan dan kedisiplinan menjadi kunci utama untuk menghasilkan songkok yang rapi, kokoh, serta memiliki nilai estetika tinggi," ujar Eko Widiatmoko, Sabtu (21/2).

Program ini memang sengaja didesain bukan hanya sebagai pengisi waktu luang selama masa pidana, melainkan sebagai investasi kemampuan bagi warga binaan.

Eko menjelaskan bahwa momentum pengasahan keterampilan ini sangat pas, mengingat kebutuhan akan perlengkapan ibadah biasanya meningkat signifikan saat datangnya bulan suci.

"Khususnya saat bulan Ramadhan ini warga binaan bisa mengasah keterampilan dalam membuat songkok," jelasnya lebih lanjut.

Bagi pihak Rutan, produksi Songkok Grissee adalah simbol transformasi diri. Melalui mesin jahit dan benang, para warga binaan diajak untuk membangun kembali rasa percaya diri mereka bahwa mereka masih bisa berkarya dan berdaya saing meski di tengah keterbatasan ruang gerak.

“Kami berkomitmen untuk terus mengoptimalkan program pembinaan kemandirian bagi warga binaan. Pembuatan Songkok Grissee bukan hanya sekadar kegiatan kerja, tetapi juga sarana membangun mental, kedisiplinan, serta rasa percaya diri mereka. Harapannya, keterampilan ini dapat menjadi bekal yang bermanfaat ketika mereka kembali ke masyarakat,” tuturnya.

Ke depan, Rutan Gresik berencana untuk terus meningkatkan mutu dan melakukan inovasi pada desain Songkok Grissee agar tetap relevan dengan selera pasar.

Pihak rutan ingin menegaskan bahwa pembinaan yang dilakukan mencakup seluruh aspek kehidupan, agar kelak para warga binaan siap menghadapi masa depan yang lebih cerah.

"Melalui program ini, Rutan Gresik menegaskan bahwa pembinaan bukan hanya tentang menjalani masa pidana, tetapi juga tentang mempersiapkan masa depan yang lebih baik," pungkas Eko. (yud/han) 

Editor : Hany Akasah
#Rutan #gresik #songkok #Ramadan #Warga Binaan