RADAR GRESIK – Cuaca buruk yang melanda perairan Laut Jawa dalam sepekan terakhir melumpuhkan total aktivitas di Pelabuhan Gresik.
Hingga Selasa (13/1), seluruh layanan pelayaran menuju Pulau Bawean, baik kapal cepat Express Bahari maupun kapal Ferry KMP Gili Iyang, terpaksa dihentikan sementara demi keselamatan jiwa.
Gelombang tinggi dan angin kencang membuat otoritas pelabuhan tidak mengeluarkan izin berlayar, yang mengakibatkan ratusan calon penumpang tertahan di daratan Gresik.
Kondisi ini menyulitkan para warga pulau yang hendak pulang. Salah satu calon penumpang, M. Rokim, mengaku sudah tertahan selama satu minggu. Ia berada di Gresik setelah mengantarkan saudaranya menjalani operasi di RSUD Ibnu Sina.
"Seharusnya saya pulang Sabtu kemarin, tapi sampai hari ini belum ada kepastian kapal beroperasi. Selama menunggu, saya menumpang di rumah singgah Perumahan Alam Bukit Raya (ABR). Kami berharap ada keajaiban cuaca membaik atau ada kapal dari pelabuhan lain seperti Paciran atau Tanjung Perak," ungkap Rokim penuh harap.
Rumah singgah di ABR kini dipenuhi warga Bawean yang memiliki keperluan medis atau dinas di daratan Gresik namun tidak bisa kembali karena faktor cuaca.
Kepala BMKG Bawean, Usman Kholid, menjelaskan bahwa tingginya gelombang di perairan Bawean, khususnya bagian selatan, dipicu oleh menguatnya Monsun Asia.
Hal ini menyebabkan angin bertiup sangat kencang dan memicu pertumbuhan awan Cumulonimbus (CB) di wilayah laut.
"Berdasarkan update per 12 Januari 2026, tinggi gelombang di jalur pelayaran menuju Bawean diperkirakan mencapai 2,5 meter. Kondisi ini diprediksi akan berlangsung hingga 16 Januari 2026," jelas Usman.
Data dari Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Perak menunjukkan kecepatan angin di perairan tersebut mencapai 16–22 knot, dengan hembusan maksimum (gusty) mencapai 35 knot. Kondisi ini masuk dalam kategori bahaya bagi pelayaran kapal berukuran sedang maupun kecil.
BMKG memprediksi potensi penurunan gelombang baru akan terjadi pada 17 Januari 2026. Namun, kepastian tersebut tetap bergantung pada dinamika atmosfer harian.
"Kami mengimbau seluruh pihak untuk memprioritaskan keselamatan. Kapal penumpang, kapal barang (LCT), maupun nelayan tradisional diminta untuk tidak memaksakan diri melaut. Masyarakat di pesisir juga harus waspada terhadap potensi hujan lebat dan angin kencang yang bisa memicu pohon tumbang," pungkas Usman Kholid.
Hingga berita ini diturunkan, loket tiket di Pelabuhan Gresik masih terpantau sepi dan hanya melayani informasi pembatalan atau penjadwalan ulang bagi calon penumpang. (jar/han)
Editor : Hany Akasah