RADAR GRESIK - Wildan Bahriza, eks narapidana teroris (napiter) yang pernah bertempur bersama kelompok ISIS di Suriah, menceritakan masa kelamnya pada tahun 2010. Di negara yang dilanda perang itu, Wildan pernah menjadi penembak jitu (sniper) sekaligus perakit bom yang andal.
Namun, masa kelamnya berakhir pada tahun 2014. Pria asal Pasuruan itu memilih pulang ke Indonesia karena ia sadar jalan yang dipilihnya salah.
Kini, Wildan lebih banyak diundang menjadi pembicara, salah satunya di hadapan perwira Polri dan tokoh agama di Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Gresik.
Dengan gaya bicara yang berapi-api, Wildan menyadari bahwa jalan kelam yang pernah dipilihnya tidak sesuai dengan keyakinan agama yang dianutnya.
"Saya sadar, apa yang saya jalani bukanlah perjuangan, melainkan jalan yang menjerumuskan. Ekstremisme justru banyak menyasar anak muda dengan kondisi rapuh, broken home, haus pengakuan, atau salah dalam memilih pergaulan," ujarnya, Kamis (28/8).
Wildan menyebut tanda-tanda awal radikalisasi sangat sederhana. Hal ini ditandai dengan perubahan sikap, menjauh dari keluarga dan lingkungan, hingga munculnya anggapan bahwa semua orang yang berbeda adalah musuh.
"Saat itu biasanya terjadi, segera waspada. Itu awal jebakan radikalisme," ungkapnya.
Kini, Wildan menjalani kehidupan yang berbeda. Ia bekerja sebagai barista, menulis buku, dan sering menjadi dosen tamu. Di berbagai forum, ia membagikan pengalamannya agar generasi muda tidak mengulangi kesalahannya.
"Data UNDP 2019 jelas menunjukkan, radikalisme banyak berakar dari keluarga bermasalah, pemahaman agama yang keliru, dan faktor sosial-ekonomi," papar Wildan.
Sementara itu, Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Divisi Hubungan Masyarakat (Divhumas) Markas Besar (Mabes) Polri, Kombes Pol. Erdi A. Chaniago, menuturkan bahwa kaum muda merupakan sasaran empuk kelompok radikal.
"Tujuan kami hadir di sini adalah untuk memberi peringatan. Aksi radikal sangat berbahaya bagi ketertiban masyarakat. Generasi muda, terutama santri, harus berhati-hati dalam menggunakan media sosial," tutur Wildan.
Hal senada juga dikemukakan Wakil Kepala Kepolisian Resor (Wakapolres) Gresik, Kompol. Danu Anindhito Kuncoro, yang menilai bahwa paham radikalisme tak mengenal golongan. Untuk itu, ia mengimbau agar peran lingkungan keluarga sangat penting dalam menangkal paham ini.
"Dunia digital sekarang sangat bebas. Siapa pun bisa memanfaatkan, tetapi tetap berhati-hati karena paham radikalisme biasanya menyasar anak muda," urai Kompol. Danu Anindhito Kuncoro.
Diskusi forum ini selain diikuti oleh sejumlah perwira Polri, juga dihadiri perwakilan tokoh agama dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), hingga pengasuh pondok pesantren di Gresik. (yud/han)
Editor : Hany Akasah