RADAR GRESIK - Desa Kepuhklagen, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, menyimpan potensi besar di sektor peternakan kambing. Tidak hanya menjual daging dan anakan kambing, warga setempat juga sukses mengembangkan produk turunan seperti susu kambing segar dan sabun alami berbahan dasar susu kambing.
Inovasi ini semakin menarik minat masyarakat sekaligus menjadi peluang ekonomi baru bagi desa tersebut. Plt. Bupati Gresik, dr. Asluchul Alif, turut meninjau langsung aktivitas peternakan kambing di desa tersebut, dan memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif warga. Ia menilai sektor peternakan bisa menjadi solusi konkret dalam mengatasi pengangguran dan kemiskinan di wilayah pedesaan.
“Jenis kambing di sini beragam, ada yang diambil susunya, ada yang untuk daging potong hingga steak restoran. Susunya sudah dipasteurisasi, bisa langsung dikonsumsi, dan juga diolah menjadi sabun alami dari susu kambing,” ujar dr. Alif.
Menurutnya, potensi ini harus dioptimalkan dengan dukungan dari Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertan) Gresik. Ia mendorong agar generasi muda lebih tertarik pada sektor peternakan, bukan hanya bergantung pada bantuan sosial atau pekerjaan di sektor industri padat modal.
“Dispertan harus aktif mengenalkan peternakan modern pada generasi muda. Lulusan SMA atau perguruan tinggi perlu dibimbing agar tertarik mengelola ternak kambing, sapi, maupun unggas,” tambahnya.
Salah satu tokoh inspiratif di balik kesuksesan peternakan di Desa Kepuhklagen adalah Libi (37), karyawan aktif PLN yang juga pemilik peternakan modern “Omiebie”. Usaha peternakan ini dirintis sejak pandemi Covid-19 tahun 2020. Berawal dari kegiatan iseng di masa pandemi, kini usaha peternakan tersebut menjadi sumber pendapatan utama.
“Waktu pandemi, banyak tenaga dan waktu luang. Saya belajar dari teman yang sudah lebih dulu terjun ke peternakan. Dari tahun 2020 hingga sekarang, hasilnya sangat menggiurkan, bahkan penghasilan dari ternak bisa melebihi gaji bulanan di kantor,” kata Libi.
Kini, peternakan miliknya memiliki sekitar 130 ekor kambing produktif, dengan jenis unggulan seperti Peranakan Etawa (PE), Sapera, dan Burja—jenis hasil persilangan baru yang dijuluki “kambing masa depan” karena produktivitasnya tinggi.
Dalam satu tahun, masa kelahiran kambing dibagi menjadi dua semester. Setiap semester, sekitar 25–30 ekor anak kambing (cempe) lahir dan dijual seharga Rp1,5 juta per ekor. Dari hasil penjualan cempe saja, Libi mampu meraih pendapatan sekitar Rp70 juta per tahun.
Tidak hanya itu, susu kambing segar yang diperah setiap hari menghasilkan omzet sekitar Rp3–4 juta per bulan. Produk tersebut juga diolah menjadi sabun batang alami, yang memiliki manfaat untuk mengatasi kulit kering, menjaga kelembapan, dan menyamarkan noda hitam.
“Awalnya kami bagikan gratis ke tetangga. Setelah dicoba, mereka malah antre minta lagi. Sampai sekarang produksi belum bisa memenuhi semua permintaan,” terang Libi.
Limbah kandang pun tak terbuang percuma. Libi mengolahnya menjadi pupuk organik, yang laris di kalangan petani lokal. Dari pupuk saja, ia bisa meraup hingga Rp8 juta bersih setiap semester.
Semua kegiatan dilakukan di lahan kurang dari 500 meter persegi. Kandang dibangun dari kayu jati dan pengelolaan dilakukan secara profesional. Saat ini, Libi hanya dibantu dua karyawan tetap, namun mampu mengelola ratusan ekor kambing dengan manajemen modern.
“Ke depan, Libi berencana memperluas kandang untuk menampung hingga 150 ekor kambing, dan lebih fokus mengembangkan jenis Sapera dan Burja karena nilai ekonomisnya tinggi,” pungkasnya. (jar/han)
Editor : Hany Akasah