RADAR GRESIK - Debur ombak tenang menyapu hamparan pasir putih yang lembut bagai bedak. Di kejauhan, siluet perahu nelayan menari di atas birunya Laut Jawa. Inilah Gili Noko, permata tersembunyi di gugusan Pulau Bawean Gresik, yang kini menjelma menjadi oase liburan keluarga, tempat tawa riang berpadu dengan keindahan alam yang memukau.
Tak heran jika pulau kecil tak berpenghuni ini kian ramai dikunjungi wisatawan. Daya tariknya sederhana namun kuat: pantai yang masih perawan, air laut yang jernih menggoda untuk berenang dan snorkeling, serta suasana santai yang jauh dari hiruk pikuk kota. Fasilitas sederhana ala beach lounge menambah kenyamanan pengunjung untuk sekadar rebahan menikmati angin sepoi-sepoi, mengingatkan pada pesona Dhurung Bawean Gresik yang lebih dulu populer.
Pengalaman berlibur ke Gili Noko kali ini terasa istimewa bagi Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Mashduqiah, Kraksaan, Probolinggo, KH Dr Mukhlisin Sa'ad. Bersama rombongan besar yang terdiri dari keluarga, alumni, santri, dan wali santri, beliau memilih Gili Noko sebagai destinasi untuk merehatkan diri. Dua perahu beriringan membawa rombongan dari Desa Sidogedungbatu, Sangkapura, menuju surga kecil di tengah laut itu.
"Saat ini kami rekreasi ke pantai Gili Noko. Sangat indah sekali bisa liburan di sini bersama keluarga, ditambah dengan makan dan bakaran ikan bersama," ungkap KH Mukhlisin dengan wajah sumringah. Kebersamaan memang menjadi bumbu utama dalam liburan ini.
Aroma ikan bakar yang menggoda bercampur dengan gelak tawa anak-anak yang bermain di tepi pantai, menciptakan harmoni yang sulit dilupakan.
Lebih dari sekadar menikmati keindahan fisik, KH Mukhlisin merasakan kedalaman spiritual di tengah keajaiban ciptaan Tuhan. "Sangat menikmati alam ciptaan Allah yang sangat menggetarkan hati untuk selalu ingat, dan bersyukur kepada Allah SWT," tuturnya dengan penuh kekaguman.
Berbagai aktivitas pun mereka jajal. Mulai dari berendam di air laut yang menyegarkan, memacu adrenalin dengan banana boat, hingga mengintip keindahan bawah laut Gili Noko melalui kegiatan snorkeling. "Begitu saya lihat pantainya jernih, pasirnya putih, saya langsung mandi, agar badan kembali segar dan sehat dari berbagai macam penyakit," jelas kiai yang ternyata sudah empat kali menginjakkan kaki di Pulau Bawean ini.
Kunjungan pertamanya tercatat jauh di tahun 1988, kemudian 1998, 2008, dan kini, di tahun 2025, Gili Noko berhasil memikat hatinya.
Menariknya, Pondok Pesantren Al Mashduqiah di Probolinggo ternyata memiliki ikatan yang kuat dengan Bawean. Banyak santri yang berasal dari pulau ini, menjadikan liburan ke Gili Noko ini sekaligus ajang mempererat tali silaturahmi antara pihak pondok dan keluarga santri.
Menurut Baharuddin, petugas wisata Gili Noko, lonjakan pengunjung mulai terasa sejak tiga hari setelah Hari Raya Idul Fitri 1446 H. "Rata-rata 200 sampai 300 pengunjung setiap harinya," ungkapnya. Dengan tarif masuk yang terjangkau, Rp 3 ribu per orang dewasa, dan biaya sewa perahu sekitar Rp 350 ribu hingga Rp 400 ribu, Gili Noko menjadi pilihan liburan yang menarik bagi banyak kalangan.
Perjalanan menuju Gili Noko sendiri menjadi bagian dari petualangan. Wisatawan harus menyeberangi perairan Bawean selama kurang lebih 30 menit menggunakan perahu. Namun, sesampainya di sana, segala lelah perjalanan akan terbayar lunas oleh pesona pulau kecil ini.
Gili Noko bukan sekadar destinasi wisata biasa. Ia adalah ruang bagi keluarga untuk menciptakan kenangan indah, menyatu dengan alam, dan mensyukuri keindahan ciptaan Tuhan. Di tengah kesederhanaannya, Gili Noko menawarkan kemewahan yang tak ternilai harganya: kedamaian dan kebahagiaan yang terpancar dari setiap senyum dan tawa pengunjung yang betah berlama-lama di surga kecil bernama Gili Noko. (jar/han)
Editor : Hany Akasah