RADAR GRESIK – Tradisi Sanggring Gumeno, yang dikenal juga dengan nama kolak ayam, merupakan tradisi tahunan yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, setiap malam 23 Ramadan.
Tahun 2025, tradisi ini akan memasuki perayaan ke-500, menandai setengah abad pelestarian tradisi yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya lokal Gresik.
Secara filosofis, Sanggring berasal dari kata Sang yang berarti raja dan Gring (gering) yang berarti sakit, sehingga Sanggring bermakna obat untuk raja yang sakit. Tradisi ini bermula pada tahun 1540 Masehi, ketika Sunan Dalem, putra kedua Sunan Giri, jatuh sakit saat berdakwah di Desa Gumeno.
Setelah melakukan salat istikharah, Sunan Dalem mendapatkan petunjuk untuk memasak ayam jago kampung dengan rempah-rempah tertentu. Setelah menyantap hidangan tersebut saat berbuka puasa pada malam 23 Ramadan, Sunan Dalem sembuh dari penyakitnya.
Sejak saat itu, beliau mewasiatkan kepada masyarakat setempat untuk melaksanakan tradisi ini setiap tahun pada malam yang sama.
Baca Juga: Kecelakaan Kerja Maut di PT Kingdom Indah Gresik, Pekerja Outsourcing Tewas Tertimpa Mesin
Tradisi Sanggring Gumeno tidak hanya sekedar makan kolak ayam, tetapi juga menggambarkan kebersamaan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur. Kolak ayam khas Gumeno terbuat dari bahan-bahan seperti ketan, santan, gula merah, jintan, daun bawang, dan ayam kampung. Hidangan ini memiliki rasa gurih dan legit yang dimasak secara gotong royong oleh para pria setempat, mempertahankan nilai-nilai kebersamaan dan pelestarian budaya.
Pada tahun 2025, 3.500 porsi kolak ayam disiapkan untuk dibagikan sebagai takjil berbuka puasa. Meskipun hujan deras mengguyur, antusiasme masyarakat untuk berpartisipasi dalam tradisi ini tidak surut. Masyarakat tetap semangat datang dan merayakan acara yang telah menjadi salah satu tradisi Ramadan yang dinanti di Gresik.
"Saya datang ke sini untuk ikut melestarikan tradisi ini. Sanggring bukan sekadar acara tahunan, tetapi juga warisan budaya yang harus dijaga," ujar Nur Asiyah, salah satu peserta yang datang dari Glagah. Ia juga merasa senang bisa terlibat dalam kegiatan tersebut, meskipun datang dari jauh.
Malik, salah satu pengurus acara, mengungkapkan bahwa persiapan untuk tradisi ini sangat matang. "Kami sudah menyiapkan semuanya sejak lama, mulai dari koordinasi panitia, pengadaan bahan-bahan, hingga pembagian tugas. Semua dilakukan dengan maksimal agar acara ini berjalan lancar sesuai tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun," ujarnya.
Dukungan juga datang dari berbagai pihak, termasuk Banser, yang turut berperan dalam memastikan kelancaran acara. Lailatul Istiqomah, anggota Banser yang bertugas, berharap acara berjalan dengan lancar. "Kami siap membantu pengamanan dan kelancaran acara ini, agar tradisi Sanggring Gumeno tetap lestari," ujarnya. (bay/lid/han)
Editor : Hany Akasah