RADAR GRESIK - Dokter adalah salah satu dari banyak profesi yang ada di masyarakat. Sebagai seseorang yang memiliki amanah menjaga dan memulihkan kesehatan masyarakat, keberadaan seorang dokter menjadi krusial. Secara umum, tugas utama seorang dokter adalah mendiagnosis penyakit, memberikan pengobatan, dan memberikan edukasi kesehatan kepada pasien. Namun, profesi dokter lebih dari sekadar itu. Dokter juga berperan sebagai konselor, pendengar, dan pendukung bagi pasien. Dalam praktik klinis, dokter bekerja di berbagai bidang, seperti dokter umum yang menjadi garda terdepan dalam pelayanan kesehatan, dokter spesialis yang mendalami bidang tertentu, hingga dokter peneliti yang berkontribusi pada pengembangan ilmu kedokteran. Selain itu, dokter juga dapat bekerja di komunitas, membantu memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat yang kurang terjangkau.
Perjalanan untuk menjadi seorang dokter bukanlah perjalanan yang singkat. Untuk meraih gelar dokter di Indonesia, seseorang harus menempuh program sarjana kedokteran atau pendidikan preklinik selama 3,5 hingga 4 tahun. Setelah menjadi sarjana, seorang calon dokter harus menempuh fase klinik atau pendidikan profesi dokter selama 1,5 hingga 2 tahun yang berlangsung di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya. Seorang calon dokter harus mengikuti Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) untuk mendapatkan gelar dokter setelah menyelesaikan pendidikan profesi. Jika berminat, seseorang yang lulus UKMPPD, mendapat gelar dokter, dan mendapat Surat Tanda Registrasi (STR) bisa melanjutkan pendidikan spesialis, yang memerlukan waktu 4 hingga 6 tahun pendidikan tergantung pada bidang spesialisasi yang dipilih.
Layaknya profesi lain, dokter memiliki tantangan tersendiri. Salah satu tantangan seorang dokter adalah tekanan pekerjaan tinggi. Terkadang, seorang dokter harus berhadapan dengan situasi darurat yang mungkin mengurangi jam istirahat. Selain itu, seorang dokter juga harus mampu mengambil keputusan yang cepat dan tepat karena keputusan tersebut dapat memengaruhi hidup pasien. Selanjutnya, dokter menghadapi tantangan emosional. Dalam era modern seperti sekarang, dokter diwajibkan memperbarui pengetahuan dan keterampilan medis. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan dalam bidang kedokteran menuntut seorang dokter untuk terus belajar demi mewujudkan perawatan terbaik bagi para pasien. Namun, profesi itu bukan hanya tentang ilmu kedokteran, tetapi juga tentang empati dan ketahanan mental. Dokter perlu menerapkan nilai tersebut untuk menjaga profesionalitas dalam situasi sulit, contohnya ketika dihadapkan dengan pasien kritis.
Untuk membantu proses penanganan pasien tersebut, kerja tim dan koordinasi oleh tenaga kesehatan dibutuhkan. Dokter tidak bekerja sendirian, karena dokter adalah bagian dari kolaborasi yang melibatkan perawat, apoteker, tenaga laboratorium, dan petugas administrasi. Koordinasi yang baik menjadi kunci terwujudnya perawatan terbaik bagi para pasien. Contohnya, ada seorang pasien dengan gejala nyeri dada yang tiba-tiba memburuk. Dokter berkoordinasi untuk melakukan serangkaian tindakan, mulai pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) sampai pemberian obat di akhir. Semua dilakukan secara singkat. Hal ini menjadi bukti nyata bagaimana dokter harus memiliki ketenangan dibawah tekanan serta memanfaatkan kolaborasi profesi dalam proses penanganan pasien. Dokter juga perlu menunjukkan empati yang tinggi ketika berhadapan dengan pasien, meskipun dengan tekanan kerja yang tinggi. Ketika menjelaskan hasil diagnosis kepada pasien, dokter perlu berbicara dengan suara tenang dan penuh pengertian agar tercipta dukungan emosional yang berarti bagi pasien. Menjadi dokter bukan hanya soal menyembuhkan pasien dengan obat, tetapi juga memberikan rasa nyaman dan keyakinan di dalam diri pasien. Dalam banyak kasus, rasa nyaman dan empati yang diberikan dokter menjadi bagian penting dari proses penyembuhan pasien.
Dokter dihormati karena profesi tersebut membutuhkan dedikasi dan tanggung jawab beesar. Dokter tidak hanya menyembuhkan penyakit, tetapi juga memberikan harapan dan dukungan moral kepada pasien dan keluarga pasien. Namun, dokter juga manusia. Penting untuk diingat bahwa dokter juga membutuhkan dukungan, pengertian, dan penghargaan dari masyarakat. Dengan adanya apresiasi dan kerja sama dalam menjaga kesehatan, dokter diharapkan bisa menjalankan tugasnya dengan lebih baik. Dalam situasi tertentu, dokter harus bekerja lebih dari 12 jam sehari, terutama dalam situasi darurat atau wabah. Tak sedikit dokter yang tampak lelah setelah bekerja sepanjang malam, namun tetap memberikan perhatian penuh kepada pasien. Hal ini menunjukkan bahwa dokter adalah bentuk pengabdian yang mengorbankan fisik dan mental. Profesi dokter menuntut kombinasi antara ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kemanusiaan. Dokter perlu berpikir logis, berkomunikasi efektif, memimpin secara tegas, dan berempati. Semua itu dilakukan di tengah tekanan waktu, tuntutan pasien, dan keterbatasan sumber daya yang terkadang menjadi problematika.
Dokter di kehidupan nyata adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang bekerja di balik layar demi menjaga kesehatan masyarakat. Profesi ini membutuhkan lebih dari sekedar kemampuan akademis, tetapi juga hati yang tulus, tekad yang kuat, dan semangat melayani masyarakat. Di balik jas putih yang dikenakan seorang dokter, ada waktu, tenaga, dan emosi yang dikorbankan demi mengobati pasien. (*/han)
Editor : Hany Akasah