RADAR GRESIK - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik mendorong pondok pesantren agar menjadi lemabaga pendidikan yang ramah anak. Hal itu dilakukan setelah banyaknya kasus kekerasan pada santri maupun santriwati di pondok pesantren.
Plt Bupati Gresik, Aminatun Habibah, menegaskan lembaga pendidikan berbasis agama, khususnya pesantren, harus menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi anak-anak dalam menuntut ilmu.
“Pondok pesantren harus bebas dari kekerasan, perundungan, dan segala bentuk perilaku yang dapat merugikan tumbuh kembang anak,” kata Bu Min, sapaan akrab Plt Bupati Gresik, saat membuka acara advokasi dan inisiasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Pondok Pesantren Tanbihul Ghofilin Al Mustofa, Desa Sidoraharjo, Kecamatan Kedamean, kemarin.
Menurutnya, pendidikan di pesantren tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua, tetapi juga merupakan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat. "Kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, pesantren, keluarga, dan masyarakat, sangat dibutuhkan untuk mewujudkan pesantren yang ramah anak dan bebas dari kekerasan," tambahnya.
Pihaknya berharap melalui sosialisasi ini, pemahaman tentang pentingnya perlindungan anak dapat semakin meningkat di kalangan masyarakat dan lembaga pendidikan.
Ia menekankan pentingnya komitmen bersama untuk melindungi anak-anak di Kabupaten Gresik, agar mereka bisa tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang aman dan mendukung.
Pihaknya juga komitmen bersama dari seluruh pihak—termasuk pengasuh, pimpinan pesantren, dan santri—sangat diperlukan untuk menciptakan pendidikan berasrama yang ramah anak.
"Pesantren harus menjadi ruang bagi anak-anak untuk berkembang dengan aman, baik secara fisik maupun emosional," katanya. (qnf/han)
Editor : Hany Akasah