RADAR GRESIK-Potensi keindahan laut Gresik memang tak terbantahkan. Selain Pulau Bawean, Gresik juga memiliki Pulau Karang Jamuang yang lokasinya di Kecamatan Ujungpangkah.
Pulau Karang Jamuang di kelilingi laut biru yang jernih, pantai berpasir putih, dan sebuah mercusuar berdiri di bibir pantai. Namun, di balik keindahannya, ada sederet cerita misteri terutama kemunculan siluman ular.
Pulau Karang Jamuang tak berpenghuni. Meski demikian, pulau bekas area pertahanan kolonial Belanda tersebut bisa dikunjungi wisatawan dengan menyewa kapal atau perahu tradisional.
Konon muncul mitos jika ada perempuan menginap di Pulau Karang Jamuang,Gresik, maka siluman ular akan muncul untuk memakan si perempuan. Bahkan pulau tersebut akan terlihat seperti tenggelam bila ada perempuan yang nekat bermalam Pulau Karang Jamuang.
Belum diketahui dari mana asal usul kemunculan mitos seputar siluman ular. Tapi, masyarakat sekitar tetap mempercayainya sehingga menjaga dengan baik aturan larangan menginap bagi perempuan di Karang Jamuang, Gresik.
Tapi, perempuan tetap diizinkan mengunjungi Pulau Karang Jamuang, asalkan tidak menginap. Artinya batas kunjungan hanya sampai sore.
Di dunia ada dua pulang terlarang bagi perempuan yakni Pulau Okinoshima dan Svalbard. Pulau Okinoshima di Jepang adalah sebuah pulau di Jepang yang menerapkan tradisi keagamaan Shinto.
Pulau Okinoshima dianggap sebagai tanah suci dan dihuni hanya oleh seorang pendeta Shinto yang merawat kuil yang dibangun.
Pulau Svalbard merupakan kepulauan di utara bumi di Norwegia dan berbatasan langsung dengan Samudera Artrik dan Lingkar Kutub Utara. Perempuan dilarang tinggal di Pulau Svalbard karena tidak ada fasilitas kesehatan.
Sedangkan di Pulau Karang Jamuang, masih sekedar mitos. Pasalnya, beberapa kali dilanggar bakal ada masalah pada perempuannya.
Beberapa orang mengatakan kalau pulau Karang Jamuang itu seakan tenggelam kalau saja ada seorang perempuan nekad menginap di pulau Karang Jamuang. Namun, sebaiknya aturan masyarakat harus dijalankan sebagai upaya menghormati lingkungannya. (han)
Editor : Hany Akasah