Apa yang dilakukan Tarso bukan tanpa alasan. Dari tahun ke tahun persoalan parkir di Kota Santri masih belum terselesaikan. Setoran retribusi parkir tepi jalan dinilai rendah sedangkan untuk di wilayah perkotaan para pengguna jasa parkir terbilang cukup banyak.
Kepada Radar Gresik, Tarso menuturkan setiap hari dirinya bersama anggotanya keliling jalanan di Gresik. Dari dalam mobil dinasnya, Tarso mengamati apa yang terjadi di lahan-lahan parkir. Baik itu keramaian titik parkir hingga kinerja juru parkir (jukir). Bahkan kadang mobil yang dikendarai bukan kendaraan dinas.
"Saya ingin melihat aktivitas perparkiran di Gresik lebih dekat. Ada yang bilang dari dulu tidak bisa diurai (carut marut,red)," kata Tarso.
Dikatakan, Dishub sering menerima retribusi parkir yang terbilang belum memuaskan. Jika ditanya, alasannya lagi sepi. Agenda keliling jalanan itu memantau apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Ia juga sedang memetakan potensi tambahan titik parkir.
Setelah ini, pihaknya akan melakukan kajian mengenai penambahan titik parkir hingga potensi tambahan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor retribusi parkir tepi jalan. Hingga akhir Mei lalu, pendapatan dari retribusi parkir baru terealiasi Rp 864 juta. Jumlah itu masih terhitung minim lantaran targetnya mencapai Rp 9 miliar.
Baca Juga : Tata Ulang Stand Terminal, Dishub Minta Penyewa Verifikasi Data
Mantan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Gresik itu menyebut akan terus dilakukan komunikasi. Agar para jukir dan koordinator bekerja maksimal. Sehingga banyaknya pengguna jasa parkir di Gresik ini dapat mendongkrak PAD.
“Hasil dari lapangan akan kita evaluasi. Sebab PAD yang masuk selama ini sedikit dan kami berupaya untuk mendongkrak itu. Apakah bisa ditambah titik parkir atau bagaimana nanti,” pungkasnya. (fir/han) Editor : Hany Akasah