Dari 25 stand yang ada, hanya delapan stand yang dikelola Dishub Gresik. Sementara 17 stand dikelola Kerukunan Usaha Kecil dan Menengah Indonesia (KUKMI) dan kini banyak yang tutup ditinggalkan penyewa.
Kepala UPT Sarana dan Prasarana Terminal Dinas Perhubungan Gresik, Masyur Arif tidak menampik carut marutnya pengelolaan stand Terminal Bunder. Pejabat yang dilantik awal tahun lalu itu mengaku sebelumnya berupaya mencari pemilik stand yang kosong namun banyak yang susah dihubungi. "Sudah saya buatkan draft usulan penataan ulang untuk disampaikan ke pimpinan," ujarnya.
Dikatakan, berbagai persoalan yang muncul ke permukaan antara lain ada stand yang sudah tutup beberapa tahun namun kuncinya masih dipegang pemilik lama. Ada juga yang standnya dialihkan ke orang lain namun pemilik sebelumnya sudah tidak bisa ditemui.
"Tantangan yang dihadapi banyak yang menyewa, namun tidak memiliki perjanjian kontrak yang jelas. Akan, kami tata dengan pendekatan yang humanis," imbuhnya.
Pemilik sewa harus mendukung program penataan yang dilakukan oleh Dishub Gresik demi memaksimalkan pendapatan daerah demi kemajuan dan pembangunan kota Gresik. "Kami mohon dukungan dan kerjasamanya," tandasnya.
Sementara itu, Pengurus KUKMI Gresik, Nur Hamim menyebut jika KUKMI sudah lama melepas pengelolaan stand terminal Bunder. Sehingga dia tidak mengetahui saat ini stand-stand tersebut dikelola oleh siapa. "KUKMI tidak ada kaitannya dengan stand disana," tegas Nur Hamim. (fir/han) Editor : Hany Akasah