RADAR GRESIK – Awan mendung kian menyelimuti perjalanan Gresik United (GU) di kompetisi musim ini. Bermain di Lapangan Thor, Kota Surabaya, tim berjuluk Laskar Joko Samudro tersebut kembali menelan pil pahit setelah dipaksa menyerah dengan skor tipis 0-1 oleh Persekabpas Pasuruan, Jumat (9/1).
Kekalahan ini membuat posisi Gresik United tertahan di peringkat kelima klasemen sementara Grup D dengan raihan 12 poin. Hasil negatif ini kian mempersempit peluang GU untuk lolos ke babak selanjutnya, bahkan ancaman terperosok ke dasar klasemen kini terpampang nyata.
Pertandingan berlangsung sengit sejak peluit pertama dibunyikan. Namun, petaka bagi Gresik United datang di awal babak kedua. Pada menit ke-55, pemain Persekabpas, Muntasir, berhasil mengeksekusi tendangan penalti dengan sempurna yang membawa lawan unggul 0-1.
Upaya GU untuk mengejar ketertinggalan semakin berat setelah salah satu pemainnya diganjar kartu merah oleh wasit. Bermain dengan 10 orang di sisa waktu pertandingan membuat skema penyerangan anak asuh Andik Ardiansyah menjadi tidak maksimal hingga peluit panjang ditiupkan.
Pelatih Gresik United, Andik Ardiansyah, mengaku kecewa dengan hasil tersebut. Menurutnya, tim sudah mengantisipasi gaya permainan lawan sejak babak pertama, namun kegagalan memanfaatkan peluang menjadi kendala utama.
“Hari ini kita belum beruntung. Kita sudah antisipasi cara main Persekabpas, tapi kita kecolongan di awal babak kedua. Setelah itu kita coba merespons, namun sayangnya peluang-peluang yang ada gagal dimanfaatkan,” ujar Andik usai laga.
Tak hanya soal teknis, Andik juga menyoroti kepemimpinan wasit yang dinilai banyak merugikan timnya.
“Banyak momen yang seharusnya jalan tiba-tiba berhenti. Pelanggaran lawan juga minim peringatan, sehingga pemain kami terpancing emosi dan akhirnya harus bermain dengan 10 orang,” tambahnya.
Kekecewaan serupa diungkapkan oleh striker Gresik United, Wahyu Agung. Ia menjelaskan bahwa faktor cuaca berupa hujan deras di awal laga sangat mempengaruhi aliran bola di lapangan.
“Babak pertama kita terus menyerang, tapi bolanya sering macet karena genangan air (banjir). Umpan-umpan through pass jadi tidak jalan karena bola berhenti di air. Itu menjadi kesulitan tersendiri bagi kami untuk mencetak gol di babak pertama,” pungkas Wahyu.
Dengan sisa pertandingan yang semakin sedikit, manajemen dan tim pelatih Gresik United kini dituntut melakukan evaluasi total demi menjaga asa bertahan di kompetisi ini. (jar/han)
Editor : Hany Akasah