RADAR GRESIK- Gunung Penanggungan merupakan gunung kecil yang berada pada satu klaster dengan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang yang jauh lebih besar. Walaupun kecil, Gunung Penanggungan diliputi aura mistis, keramat dan suci.
Pemerintah berencana melakukan eksplorasi cagar budaya di kawasan Gunung Penanggungan akan segera digulirkan. Penjelajahan dengan menerapkan metode light detection and ranging (LiDAR) tersebut dijadwalkan berlangsung Agustus ini.
”Saat ini, kegiatan LiDAR mulai tahap diskusi dan penentuan lokasi,” ujar Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur Endah Budi Heryani Senin (5/8) dikutip dari Radar Mojokerto.
Saat ini, Gunung Penanggungan berstatus kawasan cagar budaya tingkat provinsi. ”Kami dan provinsi lakukan pendampingan saja, karena kegiatan ini leading sector-nya adalah BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional),” terangnya.
Dalam upaya penelusuran cagar budaya tinggalan Majapahit ini, lanjut Endah, akan menggandeng lembaga penelitian arkeologi asal Prancis Ecole Francaise d’Extreme-Orient (EFEO). ”Sejauh ini, BRIN masih menggandeng EFEO untuk LiDAR ini,” imbuh Endah.
Dia menjelaskan, sejauh ini, BPK Wilayah XI Jatim telah menyampaikan teknis penelusuran jejak sejarah di gunung yang disucikan masyarakat Majapahit itu pada pihak terkait. Tujuannya, tak lain agar pemindaian cagar budaya tersebut dapat berlangsung dan menuai hasil optimal.
”Terkait aturan dan tata laksananya sudah kami sampaikan dari awal supaya nantinya kegiatan bisa berjalan dengan lancar,” tukasnya.
LiDAR merupakan metode pendeteksian objek berbasis pantulan sinar laser yang menembus rimbunnya vegetasi pegunungan untuk mengukur jarak objek yang ada di permukaan bumi.
Sekaligus mengonstruksikan peta topografi atau model permukaan tanah secara akurat. Pemindaian ini dinilai sebagai metode yang efektif untuk mendeteksi sebaran cagar budaya di kawasan Pawitra.
Tujuannya, untuk melengkapi lebih dari 100 cagar budaya yang telah terdata sejak Gunung Penanggungan ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya tingkat provinsi pada 2017 silam.
Eksplorasi yang telah disiapkan sejak jauh hari ini diharapkan berdampak banyak bagi khazanah arkeologis di Gunung Penanggungan. Karena diyakini masih banyak tinggalan cagar budaya sisa peradaban klasik yang belum terdeteksi.
Beberapa tinggalan purbakala yang tercatat di sana adalah Situs Candi Selokelir maupun jalur kuno kereta kuda. Pelengkapan data cagar budaya ini nantinya digunakan sebagai acuan fungsi pelestarian dan perawatan cagar budaya oleh pemerintah
Gunung Penanggungan memang menjadi misteri sampai sekarang. Gunung penanggungan memiliki berbagai cerita suci yang menyertainya.
Gunung penanggungan disebut salah satu warisan peninggalan Kerajaan Majapahit pada abad ke-15. Gunung Penanggungan, yang dianggap sebagai wilayah suci, tentu tidak lepas dari Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada yang saat itu tidak hanya mampu menciptakan stabilitas politik, kemakmuran ekonomi, tapi juga kehidupan keagamaan warganya.
Warga yang ingin menyempurnakan kehidupan religius dengan bertapa, bisa menjalankannya.
Gunung Penanggunangan atau nama kunonya Gunung Pawitra berlokasi di Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Gunung Pawitra berada di ketinggian 1.653 m dpl dan berbentuk kerucut.
Secara geografis, Gunung Penanggungan berada di perbatasan dua kabupaten, yaitu Kabupaten Mojokerto (bagian barat) dan Kabupaten Pasuruan (bagian timur) dan berjarak kurang lebih 55 km sebelah selatan kota Surabaya.
Tidak hanya dirasakan di puncak gunung, suasana atau aura mistis itu terasa mulai dari kaki gunung. Bagaimana tidak, di area gunung ini ditemukan candi-candi khas bangunan peninggalan Hindu-Buddha.
Tidak hanya suasana kesucian gunung yang didukung bangunan Hindu-Budha, tapi juga ada kisah tentang asal-muasal gunung suci itu. Cerita yang diwariskan turun-temurun, konon gunung keramat itu merupakan jelmaan Mahameru, gunungnya para dewa di zaman.
Tidak hanya cerita lisan, dalam kitab Tantu Panggelaran Saka 1.557 atau 1.635 M, konon, para dewa sepakat untuk menyetujui bahwa manusia boleh berkembang di Pulau Jawa, namun pulau itu tidak stabil, selalu diguncang diterpa ombak lautan. Agar kondisi Pulau Jawa stabil, para dewa sepakat memindahkan Gunung Mahameru dari Jambhudwipa ke Jawadwipa.
Dalam perjalanan kepindahan tersebut, sebagian Mahameru ada yang rontok berjatuhan. Akibat material yang jatuh itu, muncul gunung-gemunung di Pulau Jawa dari barat ke timur.
Bagian terbesarnya jatuh menjelma menjadi Gunung Semeru, sedang puncak Mahameru dihempaskan oleh para dewa menjadi Pawitra yang sekarang disebut Gunung Penanggungan. (han)
Editor : Hany Akasah