Dari informasi yang dihimpun di lapangan, massa yang diketahui dari perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) itu berasal dari berbagai daerah. Massa meluruk Polsek Dawarblandong karena ada salah satu anggota yang dikeroyok sekelompok orang.
Konvoi dimulai pukul 19.00 atau usai salat Isya. Massa dari arah Balongpanggang menuju Dawarblandong yang merupakan area perbatasan Mojokerto - Gresik. Mereka menggeber - geber motor dan mengibarkan bendera.
"Awalnya sekitar 200-an orang, kemudian dating lagi seribuan orang. Soalnya ramainya dari perempatan Dawarblandong sampai Desa Dapet," kata Bandi warga sekitar, Selasa (23/11).
Menurutnya, aksi ini lantaran ada anggota PSHT yang dikeroyok di wilayah Dawarblandong. Massa diduga tidak terima dan melakukan konvoi untuk meminta kasus tersebut diusut. "Massa juga sempat melakukan aksi bakar ban," imbuhnya.
Mengetahui adanya konvoi itu, Bandi dan warga sekitar langsung menutup rumah dan warung mereka. Bandi sendiri berjualan bensin eceran, tambal ban dan tempat ngopi. "Mereka tidak melakukan pengrusakan. Hanya saja memenuhi jalan dan bleyer - bleyer. Kalau tidak salah pukul 22.00 bubar," katanya lagi.
Warga lain menyebut aksi konvoi itu meresahkan. Meskipun sasarannya Dawarblandong, namun Desa Dapet terkena imbasnya. "Sangat meresahkan warga. Intinya, orang dari berbagai daerah itu tadi malam ngluruk Polsek Dawarblandong. Kejadian di Balongpanggang dan sekitarnya itu dampak pulangnya mereka," pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Kedungsumber Wahono Yudo dikonfirmasi wartawan membenarkan kejadian di wilayah kampungnya tersebut. Sepengetahuannya, jumlah peserta arak-arakan massa itu ada ratusan orang. “Saya tidak mengetahui bagaimana kejadiannya, tiba-tiba sudah kacau tadi malam,’’ ujarnya, Selasa (23/11).
Yang jelas, lanjut dia, dari laporan sementara ada sebanyak 18 rumah warganya menjadi korban pelemparan. Selain itu, ada satu motor yang dibakar massa. Menurut dia, kejadian itu baru kali pertama. Tentu, kejadian seperti itu sangat meresahkan dan mengganggu kenyamanan masyarakat. ”Kami berharap tidak terulang lagi,’’ katanya. (yud/han) Editor : Hany Akasah