Menjemput Berkah di Waduk Srumbung Gresik: Kala Tangan Khas Perdesaan Menelusuri Tradisi Ngubek

Fajar Yuliyanto • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:29 WIB
BERGEMBIRA: Ratusan warga antusias dan bergembira saat menangkap ikan gratis dalam tradisi Ngubek Srumbung di Waduk Srumbung, Desa Bulangan, Dukun, Gresik. (Foto: DOK/Radar Gresik)
BERGEMBIRA: Ratusan warga antusias dan bergembira saat menangkap ikan gratis dalam tradisi Ngubek Srumbung di Waduk Srumbung, Desa Bulangan, Dukun, Gresik. (Foto: DOK/Radar Gresik)

RADAR GRESIK - Aroma lumpur basah berpadu riak air surut menyambut teriknya siang di Waduk Srumbung, Desa Bulangan, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik. Di tepi telaga perdesaan itu, ratusan warga dari berbagai tingkatan umur berdiri sigap.

Dari deretan anak-anak bertelanjang dada hingga para sepuh berpakaian lusuh, mata mereka tertuju pada satu titik: permukaan air waduk yang kian mengering.

Begitu komando dimulai, suara kebasahan mencebur ke air bersahut-sahutan. Ratusan raga seketika tumplek blek, merangsek ke tengah waduk dalam riuh tradisi Ngubek Srumbung.

Baca Juga: Dapat Tambahan Rp 104 Juta, BPBD Gresik Siapkan 450 Tangki Air Bersih untuk 62 Desa Terdampak

Ajang tahunan dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ini bukan sebatas kegiatan berebut hasil rawa. Lebih dari itu, Ngubek Srumbung adalah ritual rasa syukur dan jalinan silaturahmi yang dirawat rapat oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Bulangan. Sebelum pesta rakyat dimulai, air waduk dikuras hingga menyisakan kedalaman semata kaki atau lutut, memancing ribuan ikan tebaran—mulai dari mujair, bandeng, patin, kutuk, hingga tombro—muncrat ke permukaan.

Uniknya, kearifan lokal ini memegang keteguhan aturan adat. Selama 15 menit pertama, tak ada jaring, tak ada serok. Ratusan pasang tangan kosong harus berjibaku langsung menelusuri dasar lumpur untuk memburu liukan tubuh ikan yang licin.

Sensasi menggeledah dasar air dengan jemari telanjang itulah yang memantik gelak tawa. Tak jarang seorang warga berteriak kegirangan karena merasa memegang ekor patin besar, sebelum akhirnya bersungut jenaka saat tahu yang tergenggam hanyalah tumpukan batang kayu. Baru setelah kurun waktu sakral itu usai, riuh warga kian menjadi-jadi saat serok dan jaring kecil mulai dimainkan.

Baca Juga: Dipicu Angin Kencang, Tumpukan Kayu di Belakang Gudang PT Citra Abadi Bosco Gresik Dilalap Api

Pj Kepala Desa Bulangan, Heru Budi Setiawan, tersenyum menyaksikan warganya larut dalam kegembiraan. Bagi Heru, benih-benih bibit ikan yang ditanam pemdes beberapa bulan lalu telah berubah menjadi panen kebersamaan yang merekatkan warga.

“Alhamdulillah, hasil tebar bibit sejak beberapa bulan lalu kini bisa dinikmati bersama. Semoga kebersamaan ini terus menjaga kerukunan antarwarga,” ungkap Heru Budi di sela-sela riuhnya suasana.

Nilai kebersamaan itu tak berhenti pada urusan perut masing-masing rumah. Sebagian hasil tangkapan segar yang didapat warga nantinya dikumpulkan untuk disumbangkan ke hajatan syukuran Sedekah Bumi desa. Nilai gotong royong terajut alami dari lumpur yang sama.

Baca Juga: Jemput Bola Layanan Adminduk, Disdukcapil Gresik Geber Program SIGAP Migran di Desa Wonokerto

Wafa, salah seorang warga lokal, menyeka peluh di dahinya sembari memamerkan hasil buruannya. Seekor ikan patin berukuran jumbo tampak meronta dalam dekapan tangannya yang berlumur lumpur.

“Alhamdulillah, kali ini saya mendapatkan ikan lumayan besar, yakni ikan patin. Saya merasa senang sekali. Semoga kegiatan tradisi ini bisa terus lestari di Desa Bulangan,” tutur Wafa dengan wajah berseri-seri.

Di balik sederhana air lumpur dan sisa kemarau, Ngubek Srumbung membuktikan bahwa kebahagiaan warga perdesaan tak butuh panggung mewah. Cukup telaga yang dikeringkan, ikan yang berloncatan, serta kehangatan kebersamaan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. (jar/han) 

Editor : Hany Akasah
Sumber : Radar Gresik
ngubek telaga gresik waduk Dukun