RADAR GRESIK – Kompleks Makam Sunan Giri tidak hanya menjadi pusat spiritual bagi para peziarah, tetapi juga menjadi saksi bisu kejayaan sejarah dan arkeologi Islam di Nusantara.
Di antara deretan artefak yang ada, Lampu Gantung Astrolop menonjol sebagai warisan budaya material yang menyimpan cerita tentang kemajuan teknologi dan spiritualitas tinggi. Saat ini, artefak berharga tersebut menjadi bagian dari koleksi Museum Sunan Giri untuk melestarikan jejak historisnya.
Budayawan Gresik, Eko Jarwanto, mengungkapkan bahwa keberadaan lampu ini memiliki makna yang sangat berlapis bagi identitas Gresik di masa lalu. Menurutnya, benda ini bukan sekadar alat untuk menghalau kegelapan di dalam bangunan makam.
"Lampu astrolop dipahami tidak sekadar sebagai alat penerangan, tetapi juga sebagai penanda sejarah, simbol religius, hingga bukti keterlibatan Gresik dalam jaringan perdagangan internasional pada masa lalu," ujar Eko Jarwanto.
Secara teknis, istilah astrolop dalam tradisi Jawa-Islam merujuk pada lampu berbahan logam seperti kuningan atau perunggu yang dihiasi ornamen artistik.
Eko menjelaskan bahwa istilah ini kemungkinan besar diserap dari kosakata teknis yang berkembang melalui interaksi perdagangan antara Asia Barat dan Eropa. Ornamen yang menghiasi lampu ini meliputi motif flora, fauna, hingga pola geometris yang estetik.
"Dalam konteks tradisi Jawa-Islam, istilah astrolop merujuk pada lampu gantung berbahan logam seperti kuningan atau perunggu, dilengkapi wadah minyak atau lilin, serta dihiasi ornamen artistik bernuansa flora, fauna, dan geometris," jelasnya.
Secara tipologi, koleksi yang tersimpan di Museum Sunan Giri memiliki variasi model kap lampu yang menyerupai bentuk bintang dan kelopak bunga. Berdasarkan kajian gaya, koleksi ini diduga kuat berasal dari rentang waktu abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Dari sisi spiritual, lampu ini membawa filosofi mendalam yang menghubungkan antara benda fisik dengan nilai keimanan.
"Secara historis edukatif, lampu astrolop mencerminkan kemajuan teknologi penerangan tradisional dan integrasi seni Islam dengan budaya lokal. Minyak dimaknai sebagai lambang ilmu, api sebagai amal, dan cahaya sebagai iman—sebuah filosofi yang menyatu dalam satu artefak," tambah Eko.
Lebih jauh, keberadaan lampu ini menjadi bukti sahih bahwa Gresik pada masa silam merupakan titik penting dalam peta perdagangan dunia. Teknologi yang melekat pada lampu tersebut menunjukkan adanya percampuran budaya dan pengetahuan yang dibawa oleh para pedagang lintas samudera.
"Secara perspektif sejarah-arkeologi dan jaringan perdagangan, lampu gantung astrolop menjadi bukti keterlibatan Gresik dalam jalur perdagangan Nusantara dan dunia. Teknologi pengecoran logam yang digunakan menunjukkan adanya transfer pengetahuan dari kawasan Timur Tengah, Gujarat, dan Champa ke pesisir Jawa," pungkasnya. (jar/han)
Editor : Hany Akasah